Showing posts with label observation. Show all posts
Showing posts with label observation. Show all posts

Thursday, 3 July 2014

Teruntuk Pemimpin Hebat Bangsa ini

Teruntuk Pemimpin hebat Bangsa ini,

Bagaimana kabarmu, Pak? Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dalam setiap langkahmu untuk membuat Negeri ini menjadi jauh lebih baik. Amin. Aku menulis ini untuk sekedar membuatmu tahu tentang paradigma yang dimiliki oleh sebagian orang bangsa ini, Pak.

Didoakeun ku nini neng matak pinter, soleh nya neng, amiin.

Itulah ujar salah seorang nenek yang saat itu aku kunjungi rumahnya karena ingin bertemu dengan cucunya untuk sekedar mengajak ngobrol dan belajar.

Sebelumnya, Pak, aku ini hanyalah seorang mahasiswi biasa, yang tidak begitu pintar, namun beruntungnya aku berada di lingkungan yang SDMnya baik. Terlahir dari anak seorang guru TK, ibuku menularkan kesukaannya terhadap anak-anak padaku. Sejak duduk di bangku kuliah, aku memantapkan diriku untuk sekedar meluangkan sedikit waktuku pada orang lain, khususnya orang-orang yang ada di sekitarku. Selama periode tiga semester, aku berhasil membagi waktuku dengan anak-anak di SDN Banyuresmi, Sumedang. Ingin mengembangkan diriku dengan anak-anak lebih dalam lagi, aku mengikuti organisasi yang berlatar belakang mengajar anak-anak di Sukanegla, Jatinangor. Namun, aku tidak hanya berinteraksi dengan anak-anak saja, melainkan dengan para orang tua di daerah yang masih sangat asri itu.

Kesan pertama yang ada dalam benakku setelah beberapa kali berinteraksi dengan para warga di Sukanegla adalah aku bagaikan raja. Mengapa demikian? Aku merasa sangat dihormati dan dijunjung sekali sebagai mahasiswa. Padahal, aku belum mendapatkan gelar sarjanaku dan mereka pun tidak tahu berapa IPKku, tapi mereka sudah membuat kami, para mahasiswa, seperti seorang raja, seseorang yang tahu segalanya.

Saat aku berkunjung ke rumah Nenek salah satu muridku, aku mendalami sekali apa yang ada di benak salah satu warga Sukanegla. Nenek itu selalu memujiku dalam setiap maksud yang ia sampaikan. Bahkan, ia memintaku untuk mencarikannya pekerjaan, atau paling tidak mempekerjakannya. Nenek itu beranggapan bahwa aku ini mahasiswa, yang kuliah dan punya uang.

Sejujurnya Pak, aku sangat lelah dengan paradigma itu. Aku lelah dengan paradigma bahwa mahasiswa adalah yang paling pintar, yang tahu segalanya, atau yang bisa segalanya. Tidak Nek, aku tidak tahu banyak tentang pengalaman hidup ini seperti Nenek. Aku baru menjalani hidup ini selama 20 tahun, Nek.

Mengapa harus ada diskriminasi profesi? Aku tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Apakah masyarakat desa yang terlalu rendah hati? Ataukah memang ada faktor-faktor lain yang membentuk paradigma seperti pada masyarakat yang berada di pinggiran kota di Indonesia?

Aku bisa sedikit menyusuri apa yang ada di pikiran para masyarakat di sekitar kampusku. Memiliki kendaraan pribadi sendiri, memakai pakaian yang bisa dikatakan sangat baik, dan memiliki gadget yang canggih, mungkin menjadi tolak ukur “mahasiswa” yang selama ini mereka lihat. Mereka berpikir bahwa dengan kondisi yang serba cukup, mahasiswa tentu bisa fokus dalam belajarnya. Tidak ada hal lain yang seharusnya dipikirkan oleh mahasiswa selain belajar.

Saat aku diberi beban yakni anggapan para masyarakat sekitar kampusku bahwa mahasiswa adalah yang tahu segalaya, aku hanya takut Pak. Aku takut tidak bisa mempertanggungjawabkan pemikiran itu. Aku, sebagai mahasiswa, hanya ingin menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar kampusku, bukan berarti dianggap seperti raja. Aku, seorang mahasiswa, masih harus belajar banyak dari masyarakat Sukanegla, bukan berarti dianggap yang tahu segalanya.

Untuk siapapun yang kelak akan menjadi Pemimpin Bangsa ini, aku harap Bapak bisa menghapuskan diskriminasi profesi itu, karena sesungguhnya, aku takut jika suatu saat aku melakukan kesalahan, mereka akan langsung memicingkan matanya, mengerutkan keningnya, dan menajamkan lidahnya padaku.

Terima kasih, Pak.


Thursday, 27 March 2014

Mahasiswa dan Politik

Bukanlah dunia yang kutahu banyak tentangnya, mendengarnya saja membuatku sedikit tersentak. Aku, mahasiswi yang sangat awam terhadap politik, tidak terlalu memerhatikan “politik” yang ada di lingkar kepalaku. Entahlah, mungkin juga tidak peduli. Semenjak aku bertemu banyak orang di hidupku, kata itu terasa makin dekat denganku. Semua orang berpolitik, ternyata, mengindikasikan bahwa tidak semua orang sepenuhnya baik. Jangan tidak siap untuk mengakuinya, kamu pun begitu.

Salahkah jika kita melakukannya? Menurutku, itu sudah menjadi sifat alamiah semua orang. Kekuasaan. Tentu tidak ada orang yang tidak ingin dilihat. Janganlah munafik, mahasiswa sejujurnya sangat pintar kan dalam ber”politik”? Tidak salah kok, yang terpenting adalah bagaimana menyiasati kata-kata “politik” itu sendiri agar tidak terdengar kasar di telinga.

Mataku terbuka lebar menyadari bahwa jalan ini terlalu luas jika dilewati oleh 1-2 mobil saja. Dalam kata lain, kemana aja lo, Wis? Satu hal yang pastinya tidak akan kusesali; bertemu banyak orang dengan berbagai macam pengalaman dan karakter pasti akan membuat kita jauh berkembang. Meskipun agak terlambat, tapi daripada aku tidak bertemu dengan orang-orang macam ini sama sekali.

Pendekatan yang dia lakukan untuk menyiasati makna “politik” layaknya sutra yang berhasil dibuat oleh laba-laba; lengket, elastis, dan sangat kuat. Mengetahui siapa saja yang menjadi oposisi kita merupakan langkah awal yang harus ada saat kita mulai ber”politik”. Selanjutnya kita hanya harus membiasakan diri dengan berbagai macam taktik untuk bisa ber”politik” dengan baik.

Satu kalimat yang memiliki banyak interpretasi yang aku dapat malam ini, “pemimpin itu tidak disetir”.

Saturday, 15 February 2014

Iqbal Januari Pratama (2)

To accomplish the full mission of on holiday with Iqbal, I write another post about him based on girlfriend's view.

It's been such a very long time since we haven't met as a partner. Akhirnya penantiannya terbalaskan juga. Sekitar hampir lima bulan baru bisa ketemu dan berbagi ceria dan cerita. Liburan semester 3 menuju semester 4 ini jadi cerita banget, sedihnya cuma bisa mengelus dada sama apa yang terjadi di dunia perkuliahan—dosen dan nilai—, tapi akhirnya ada pelangi; Iqbal pulang, yeay! Nasib tinggal di ujung Indonesia, biaya pesawatnya sangat tidak murah. Alhasil, dia harus berjuang makan sehari yang lima ribuan biar bisa nabung *starry eyes*. Iqbal sampai Jakarta tanggal 15 Januari 2014, sehari setelah ulang tahunnya. Bermodalkan roti berbentuk kura-kura yang dibeli dari toko kue kecil dekat rumah juga kayaknya Iqbal udah seneng hehe.

Actually, we’ve made places-to-go and things-to-do list for our holiday but due to the short time we had only some places we could go to and some things we could do. Hal yang belum terlaksana adalah ngajarin Iqbal Bahasa Inggris dengan silabus yang paling beda dan nonton Iron Man bareng seharian dari 1-3. Sedihhhhh. When ldr people have their holiday together, it doesn’t guarantee they will not argue and have some “berantem-berantem unyu”. We did that. Yang harus aku akui adalah, dia orang tersabar yang pernah aku temui. With his simple and mature mind, he could carry me out from my selfishness. Baru kali ini dalam satu hari, yang bener-bener bete banget awalnya, sekitar satu-dua jam kemudian udah lupa sama apa yang bikin bete dan udah ketawa-ketawa lepas bareng lagi.

Kenal sama Iqbal sih udah lama, cukup lama, tapi beda rasanya kenal sama Iqbal sebagai teman sama sebagai pacar. Sewaktu jadi pacarnya, semua hal yang dulu didapet sebagai teman juga masih didapet sekarang. Dari dulu SMA sampai sekarang jadi pacarnya, dia masih tetap jadi cowok iseng yang pernah aku kenal. Masih suka miting-miting gitu kalo lagi geregetan, masih suka masukin jari orang ke lubang hidungnya, dan masih suka kentut sambil bergaya. But that’s what I love about him. Nggak banyak bedanya kok pokonya, kita seneng banget bertukar pikiran ngobrolin banyak hal kayak dulu di SMA. Sebagai teman yang tahu cerita masa lalunya, menurutku dia sudah berhasil melewati fase ketidakstabilan karena sekarang dia sudah jauh lebih dewasa dari Iqbal yang SMA. Apa ya…dia tuh kalau sudah tulus melindungi seseorang pasti dia akan melakukan semua semampunya dia, bener-bener dengan perjuangannya pokoknya. Dia juga orang yang sangat bisa membahagaiakan pasangan dengan semaksimal mungkin karena itu prinsipnya. Ada beberapa hal yang selama ini masih jadi pertanyaan-pertanyaan di otakku yang didorong sama Iqbal juga, apakah selama ini masih kurang juga ya usaha kamu, Wis? He felt that I’m not really total to my effort. Bingung sih asli. Terus mikirin apa yang salah dan siapa yang salah. Lama-lama bisa belajar juga tentang apa yang dimaksud sama dia. Semua orang emang punya cara yang beda-beda buat membahagiakan pasangannya, tapi kan kalo ngelakuinnya maksimal pasti beda rasanya. Maaf ya Iqbal. Ngerti kok sebenernya apa yang ada di pikirannya, karena sebenernya yang namanya pasangan tuh saling merefleksi. What you did ya what you got. Pokoknya begitu. Dia juga penuh kreasi gitu dalam mewarnai hubungannya. Dia adalah orang yang nggak pernah berhenti belajar, terbukti karena dia sering banget baca artikel-artikel dan video-video yang sekiranya bisa ngebantu dia dalam ngejalanin hubungannya. Sisi lain yang paling aku suka tentangnya adalah, cara dia ngemong anak kecil hehe. Dia sih cuma bilang biasa aja sama anak kecil sedangkan aku sangat suka anak kecil, tapi waktu aku main ke rumahnya dan bertemu ponakan cantiknya, cara dia menyayangi anak kecil tuh sweet HAHA. Bukan yang dielus-elus terus diciumin gitu, nggak, tapi diajak bercanda terus digendong-gendong, dilempar-lempar sampai ponakannya tertawa kegirangan. It looks sweet for me.

Hal yang bikin nggak srek adalah dia terlalu mengarahkan sesuatu. Maksudnya gini, mungkin tujuannya itu baik biar semuanya berjalan baik mengingat apa yang sudah masing-masing lakukan, tapi menurutku kalau misalnya terlalu ngarahin, minta gitu juga jadi pusing sendiri. Tapi nggak banyak kok karena aku tau maksudnya. Iqbal juga kalau udah main game online tuh lupa sama seluruh dunia dan isinya. Kayak yang he lives for game, ya nggak papa sih sebenernya ditinggal main game selama masih ada film yang bisa ditonton, tapi ya kalo bisa nggak lama-lama juga dari jam 4an sampai jam 10 malam begini. Oh iya, kemarin juga sebenernya aku sih biasa-biasa aja sama rambutnya yang gondrong karena aku tahu perasaan laki-laki selalu berambut pendek terus dan sekali dia nyaman dengan rambut panjangnya, dia nggak akan potong, tapi kalau disuruh milih sih sukanya sama rambut Iqbal yang pendek aja. Balik lagi sih, kalau dia suka ya mau diapain dan aku sih nggak papa-papa aja.

Gitu deh pokonya Iqbal, yang jelas I’m really into him.
Ini foto yang paling favorite hoho

Oh iya Iqbal udah potong rambut loh sekitar tanggal 10 atau 11. Yeay!

Tuesday, 7 January 2014

Tidung Island

Hello 2014!
I'm pretty sure everybody has their own wishes for every year. Let's make best effort and let God do the rest! Aamiin.

Weekend pertama di tahun 2014, saya dan keluarga berkesempatan untuk mensyukuri nikmat Tuhan dengan pergi ke Pulai Tidung. For God's sake, that was the first time I rode a speedboat in an hour and it successfully made my heart beat uncontrollably. On one hand, Pengalaman naik speedboat menjadi nggak asik karena saat itu speedboatnya berlawanan arah dengan ombak. Mual. Pasti banget itu. Nggak tenang juga iya. Gimana mau tenang kalau adek yang duduk di sebelah terus berkicau, "huaaa takut!"


On the other hand, you would never stop saying something to show your gratefulness. I bet. Ombak yang menggulung-gulung tinggi yang mampu membuat jantung jadi tidak karuan berubah saat birunya air laut memberikanmu ucapan selamat datang yang hangat. Waktu itu, saya bersama rombongan dari kantor Ibu saya berangkat menuju Ancol setelah habis shalat subuh. Kami semua benar-benar berangkat dari pintu masuk tol Cijago menuju Ancol sekitar pukul 06.30 WIB. Kami tiba di Marina, Ancol pukul 07.30 dan mobil kami diparkir di tempat yang sudah disediakan, biayanya Rp 20.000 semalam. Perjalanan dari Marina ke Tidung menghabiskan waktu satu jam, tetapi jika dari Muara Angke, yang saya tahu, sekitar dua jam.
Dermaga Marina Ancol



 Iseng naik sepeda sambi cari spot yang bagus untuk difoto, ini potret Pulau Tidung dari sisi lain

Potret dari sisi yang lain lagi

Ada tambahan cerita seru. Setelah mengayuh sepeda berdua dengan adik di siang hari selama 10-15 menit karena dibuat penasaran oleh jembatan cintanya Pulau Tidung, sampai juga kami di jembatan cinta. Tersadar bahwa ada tulisan, "parkir sepeda Rp 2.000", adik memanggil saya memastikan jika saya benar-benar tidak membawa uang. Dengan jantung yang tidak karuan, kami balik lagi dengan saya yang memberanikan diri berkata, "bang, mau balik lagi ya bang." Untungnya abang-abang penjaga itu memberikan izin kami keluar tanpa bayar. Makasih bang hehe. Fyi, untuk yang jalan kaki tidak kena biaya kok. Oh ya, transportasi disana hanya ada sepeda dan becak motor. Becak motor bisa dinaiki lebih dari dua orang jika mau, karena penumpang juga bisa duduk di belakang supir. Ini juga pengalaman terbaru saya terhadap transportasinya, karena mengingat perjalanan yang telah dilalui cukup menegangkan dan berharap agar perjalanan lautnya segera berakhir, berbeda rasanya saat liburan tetapi masih dikelilingi oleh kendaraan berplat B karena Pulau Tidung masuk ke dalam Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta.


Sore harinya sekitar pukul 14.00 WIB, saya bersama rombongan naik perahu yang berukuran sedang untuk bisa menyelam di tengah lautan. Kami dibawa berkeliling di tengah gulungan ombak dengan jantung yang tentunya semakin tidak menentu karena semakin kecil kapalnya dengan ombak yang semakin besar membuat kami takut, apalagi kemiringan kapal sangat terasa jika ombak sudah menggulung.

Gambaran perahu yang saya naiki, tetapi ini perahu rombongan lain

 Saat di tengah laut



Beningnya air di Tidung


Jembatan cinta

Friday, 29 November 2013

Oh Cabai


Good evening, everyone!

Mungkin beberapa orang yang kenal sama gue udah tahu kalau gue nggak suka sama cabai. Bukan cuma cabai aja sih, apapun yang mempunyai rasa pedas nggak cocok sama lidah gue. Mungkin beberapa dari kalian juga penasaran kenapa gue nggak suka sama cabai dan apapun yang pedas-pedas, termasuk sindirian pedas. Gue disini pakai kata mungkin untuk menghibur diri sendiri. Ya kan beranggapan aja kalo bakal ada yang penasaran. Bantu senengin gue ya.

Saat gue keceplosan makan pedas, gue nggak alergi kok, tapi lidah gue rasanya menolak mentah-mentah buat si rasa itu masuk. Ada beberapa alasan yang membuat gue nggak suka banget sama cabai dan apapun yang pedas.

Pertama, pedas tuh ya…pedas. Gue nggak ngerti saat teman-teman gue nanya ke gue, “Wis, kenapa gak suka pedes?” Gue cuma jawab, “Ya karena pedes.” Gue terus memutar-mutar apa yang ada di otak gue, pedas kan pedas, kenapa juga masih tanya gak suka. Pedas tuh ya nggak enak, menurut gue. Entah kenapa, mungkin saking jarang bangetnya makan pedas, jadi indra pengecap gue bagian perasa pedasnya tuh masih berfungsi dengan sangat baik. Saat teman gue suka sama pedas, menurut logika gue, berarti tempat untuk merasakan rasa pedasnya udah semakin kebal sama rasa pedas, jadi nggak heran ada yang tingkat kesukaan sama makanan pedasnya tuh meningkat. Begitu pula yang terjadi dengan gue. Berhubung gue nggak suka pedas, jadi tempat merasakan pedas di lidah gue masih berjalan baik dan kalau kesentuh makanan pedas sedikit langsung terasa.

Kedua, pedas tuh bikin gue ngeces.  Bahasa Sundanya tuh ngacay, ya pokoknya hasil terjadinya air liur berlebih yang tidak bisa tertampug oleh mulut. Kebayang nggak tuh kalau gue lagi makan bareng-bareng tau-taunya makanannya pedas dan bikin gue ngacay. Masalahnya, karena yang nggak pernah suka sama pedas ini udah dari awal banget lahir ke bumi, ngacaynya tuh nggak sebentar. Kan jadi bete sendiri meskipun yang ngacaynya gue, kalo nanti air liur gue habis gimana? Ya maklum, bukan anak biologi jadi taunya air liur bisa habis.

Ketiga, pedes itu bikin gue harus banyak minum. Faktanya, gue termasuk orang yang cukup lumayan sering minum saat makan, karena  gue udah dibiasain untuk minum air putih yang banyak sama Bapak Prasetyo. Terbukti dari jaman SD sampe kuliah gue selalu bawa botol minum sendiri ke tempat gue sekolah. Kebayang nggak kalo gue udah sering minum pas makan, eh makanan yang dimakannya pedas. Kemungkinan gue minumnya akan jadi berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pengalaman yang paling gue ingat adalah, waktu itu di kelas 9 SMP, gue belajar bareng teman gue di rumahnya, karena udah jam makan siang, ibunya masak mie goreng untuk kita, tapi sayangnya teman gue ini lupa bilang sama ibunya kalau gue nggak suka pedas jadi weh sambal di mienya dicampur sama ibunya. Gue yang saat itu sudah bisa mencium aroma sambal di mie gue cuma bisa berdoa dan makan mie itu dengan penuh rasa menghargai ibunya teman gue. Seinget gue mienya nggak habis karena gue sudah super kekembungan akibat minum 1,5 liter air putih. Gue nggak kuat jalan dan ngapa-ngapain saat itu. Dada gue udah sesak banget karena napas gak bisa kekontrol akibat kekenyangan.

Please, don’t “lebay lo!” me. Gue tau emang mungkin terdengar amat berlebihan bagi orang lain, tapi terimalah gue apa adanya. Halah Wis. Sampai sekarang, sudah banyak teman dan semua orang yang dekat sama gue memotivasi untuk bisa menyembuhkan gue dari ketidaksukaan terhadap pedas ini. Sampai sekarang sih gue masih nggak bisa makan cabai dan yang pedas-pedas. Meskipun gue udah sekitar 51.411.663 kali ditipu sama penjual makanan nasi goreng, mie goreng, dan sebagainya, tapi gue masih nggak makan pedas kok, karena Bapak Prasetyo selalu melindungi gue dari serangan cabai dan aneka pedas-pedasan, yippiiii!!!

Well, gue merasa ini anugerah, karena gue berbeda dengan yang lain haha. Sampai sekarang teman-teman dan pacar gue masih bersama gue kok meskipun gue berbeda.

Sumber gambar: http://viknovi.blogspot.com/2013/01/cabai-merah.html

Friday, 25 October 2013

Happy Birthday to Me!

Selamat ulang tahun ya Wisny…semoga bisa sehat selalu, dikelilingin sama orang-orang yang baik, dimudahkan urusannya, dan tercapai semua cita-citanya aamiin! Loh, nggak apa-apa kan doain untuk diri sendiri? Hehe. Semoga yang membaca juga berbalik ya doanya :D

Well, I’m 19 now!

What do I feel? Nothing’s different but I think this is the time to show to everybody that it’s me, I exist.

How is that? Doing many things very well and being the extraordinary one.

Being nineteen is like I have more responsibility to take and to live it by myself. Nobody can help but me. Bahkan kayaknya tuh udah bukan saatnya lagi lo berada di balik punggung orang tua minta bantuan mereka, tapi lo yang harus siap pasang dada untuk ngelindungin orang tua lo. Ngelindunginnya pake kesuksesan yang udah lo capai selama ini sehingga mereka punya anak yang bisa dipasang dadanya di depan mereka saat orang lain nanya, “anaknya gimana pak/bu?” Orang tua lo tinggal pasang dada lo di depan mereka dengan bilang, “Alhamdulillah pak/bu, begini sekarang.” Whooaaa, what a life!

Di ulang tahun yang ke-19 ini gue sangat bersyukur buanget punya temen-temen yang selalu ada buat gue, dan alhamdulillahnya pacar yang beberapa bulan ini mewarnai hidup gue. Cerita kejutannya sederhana dan bermakna, dan gue tetep terkejut karena ketidakpekaan gue terhadap sesuatu hal. Jadi hari Jumat itu, @annisahaps @arinaprm dan @NettiRahmawati nonton three on three di kampus. Gue sih emang nggak terlalu tertarik sama basket, ditambah lagi hari itu gue punya gosokan yang udah teriak-teriak minta perhatian gue, jadi nggak masalah buat gue untuk nggak ikut mereka. Sekitar jam setengah dua siang saat matahari lagi puanas banget kalo di Jatinangor, tiga kucrut itu dateng ke kosan gue dengan bawa kue. Gue seneng banget akhirnya bisa ngerayain berempat lagi, lengkap! Ceritanya beda sama pacar gue yang semenjak dari kemaren udah mulai cuek sama gue. Emang dasarnya gue nggak peka, gue cuma sakit hati sedikit karena dia cuek sama gue. Sakit hati gue bertambah banyak setelah dia cuma ngeread whatsapp gue dan ngucapin happy birthday jam 3-an. Saat itu gue cuekin balik, dalam hati gue cuma bilang, “terserah lo deh.” Sekitar jam 9 malam, ada yang ngetok pintu kamar gue dengan suara ketukan yang kenceng dan buru-buru banget, suara ketukannya kayak ngetuk pake kentongan, sumpah. Disitu gue takut banget, gue takut kalo itu orang jahat atau apapun. Terus gue langsung minta pacar gue untuk nelfon gue dengan segera. Dia bilang kalo itu bukan siapa-siapa dan minta gue buat nengok keluar. Ya gue takut lah, banget! Sampe Iqbal memohon buat buka pintunya, baru gue buka setelah 10 menitan. Jeng jeng! Gue dapet dua bingkisan. Dua-duanya dari Iqbal. Bingkisan pertama tuh hasil gambarnya dia gitu, gambar huruf “W” dihias sama pesan-pesan dan harapan dia buat gue, ditambah surat yang mencurahkan isi hatinya buat gue. Bingkisan satu lagi adalah sweater merah yang lucu banget, ngingetin gue sama Iron Man, ughhh! Waktu gue lagi ngeliat keseluruhan sweaternya, label harganya belum dicopot. Duh iqbal lupa bilang sama abang-abangnya, jadi ketauan deh kan :p

Well, my nineteen is full with gratefulness. Nggak ada habis-habisnya gue bersyukur dikelilingin sama orang-orang yang baik banget di hidup gue. No more precious birthday than your life is fulfilled by worthy people. Happy 19 on October 19th!

Friday, 27 September 2013

Perhatian dan Pengertian

Perhatian dan pengertian sebenernya adalah dua hal yang sejenis, menurut gue. Gue mulai aware dengan dua kata ini setelah pengalaman untuk ber-LDR diuji lagi. LDR yang lagi dijalanin bukan sekedar antarprovinsi yang bisa sebulan sekali ketemu, we are in the different island. Beda pulaunya juga nggak yang berarti deket terus bisa ketemu mungkin tiga bulan sekali, tapi dia ada di Sabang, Indonesia.

Nggak gampang emang buat memutuskan untuk kembali menjalani LDR kalo orang yang akan jadi partner lo cemen banget. Dengan pengalaman LDR yang pernah gagal, untuk seorang perempuan yang sangat perlu komitmen, it was a hard decision. Beruntungnya karena ternyata partner yang sekarang punya daya juang yang tinggi untuk mempertahankan dan memperjuangkan, so nothing to worry.

Pasangan gue memiliki cara pandang yang hampir sama kayak gue, tapi nggak semuanya sama. Salah satunya adalah tentang perhatian dan pengertian. Pasangan gue yang ini orangnya boleh dibilang sangat perhatian, untuk masalah perempuan yang selalu mau diperhatiin, gue nggak perlu khawatir karena dia udah ada di level yang lebih dari cukup untuk bisa memperhatikan pasangannya. Gue, yang kata pasangan gue, salah satu temen gue, dan secara general gue menilai diri gue sendiri, I’m lack of giving as much as affection which he does. Gue lebih menanggapi semuanya dengan simple dan mencoba mengerti gimana rasanya jadi orang lain. Gue juga orangnya sangat mentolerir banyak hal asalkan itu positif. Maksudnya gini, saat lo pacaran dan itu berhubungan jarak jauh, nggak ada lagi yang bisa lo andalkan selain smartphone dan koneksi internet, so as possible as you can, you will always keep in touch with him, right? Berhubung semua mahasiswa yang selalu memiliki tugas banyak, gue akan sangat ngerti saat pasangan gue lebih memilih semua hal yang berhubungan dengan dunia perkuliahannya dibandingkan gue, and I’m okay. I really am. Ya karena manusia sifatnya beda-beda, mungkin bisa dibilang bahwa he does not tolerate as much as I do to him. Kita berkebalikan. Sifat gue yang selalu mentolerir banyak hal lah yang jadi mengesankan gue terlalu cuek sama pasangan gue karena gue akan oke-oke aja kalo misalnya hampir seharian dia nggak menghubungi gue demi semua hal yang berhubungan dengan dunia perkuliahannya. In fact, I do not mean to be like that.


Setelah dikomunikasikan dengan panjang lebar dan secara dewasa tentang apa aja yang kita mau, intinya adalah; pasangan gue membutuhkan perhatian, dan gue membutuhkan pengertian. Well, maybe I cannot do the affection as much as you do to me, but I will do as hard as I can to you karena sebenernya untuk mencoba menjadi sessuatu hal yang kita belum terbiasa itu susah loh, tapi kalo berhasil berubah tuh sesuatu yang harus diapresiasi. Being well-known because of the behavior which sticks to you is good, but it cannot be better if you have as much as good behavior you can have. Perhatian dan pengertian itu bukan pilihan, tapi emang harus ada dua-duanya dalam satu hubungan.

Sunday, 22 September 2013

The Real Beauty of Woman

For a woman, beauty is like a status to measure where stage she stands on is. The matter is the fact that woman thinks beauty is measured on how pretty she is. Unfortunately, the beauty itself has some categories to be considered before you say you are beautiful.

The first category is having a natural face. It means that you do not need much makeup to be attractive. If you are really beautiful, everybody will say you are beautiful although you do not use any makeup. Based on the small research which was done by a woman to man (kompasiana.com), man actually does not really care about how many kind of makeup you have pour to your face. What they need is the comfort both of you make. On the other hand, there are some jobs which require the employees especially women to be attractive, especially woman with makeup. In that case, you cannot do anything because it is a regulation from your job, but you can still have a natural face. Having a natural face means that you put enough portion to your face. You can use either a soft colour to make your face does not look like a clown or a skin colour to make it look like your real skin.

Doing some exercise is the second category. Beauty is not always measured by your physical appearance. It also depends on your health. Someone who looks so energetic will bring a good aura and it will lead you to a good impression from others. Your health also leads you to a self confidence. If you believe to yourself, you will get good result from everything you have done because what you think and have faith is what you will get. You can start from an easy exercise like jogging, skipping, or everything you think you can do in a short time. Having a good sleep time is also another way to make you healthy and fresh. People prefer to be interested in a woman who is fresh and healthy but not too pretty than a woman who is beautiful but looks so tired.

Another aspect of the real beauty of woman is her intelligence. People will like a woman who has much knowledge. Someone’s knowledge determines how she sees something and how she solves her problem. Woman who has high intelligence can mingle with everybody from every class because she knows how to treat people from up and down classes. With her intelligence, woman also can enhance her status with man. She will not be underestimated by man because she has much knowledge. Woman’s intelligence can also be seen from her experience. Woman with many experiences will be assumed as an active woman. It is also a good impression from others that will give you label as the really beautiful one.

The fourth category is whether the woman is independent or not. Woman who is independent is absolutely a mature one. If you are independent, you will be assumed that you are brave enough to take the blame for what you are going to face. You will also be believed to handle everything by your own. Being independent also can be seen whether or not she can do the house works. Besides your knowledge, a man will see you are beautiful or not from what kind of thing you can do in your house. It is a destiny that woman should take care of the household. Although the globalization has changed everything, but a skill to cook is a must-skill that should be had by every woman. Research found that men love woman who can cook is 33% percents. (merdeka.com)

The last but not least, woman is beautiful when she can take care of her surroundings. Taking care of your surroundings means that you want to share everything you have to others. If you think you have knowledge that others do not, you may share with them. If you think you have some clothes that you seldom wear it, you may also share with them. Taking care of surroundings does not always mean it is your relation to others but also to the environment. Keeping the environment clean from your trash is also a form of taking care of surroundings. The important thing in the society is you will be looked based on your habit and your behaviour. How useful you are for your society and what things you can do for your society are the aspects that your beauty is admitted by others.


To sum up, there are many factors that should be considered as the real beauty of woman, such as: having a natural face, doing some exercise, having high intelligence, being independent, and taking care of her surroundings. 

Sunday, 8 September 2013

It is Fate!

No one knows what his/her life would be later on. Pernah nggak sih lo kepikiran kalo orang baik yang lagi sama lo sekarang bisa jadi orang yang nggak begitu baik lagi nantinya? Atau orang yang di samping lo sekarang adalah orang yang nggak lo suka tapi mungkin nanti di masa depan dia jadi orang yang sangat lo butuhin. Have you ever wondered? It is such a mystery!

Kejadian inilah yang proses menuju pos satunya Alhamdulillah udah gue lewatin, tinggal terusin jalan biar sampe ke pos-pos yang lain aja. Dimulai dari seseorang yang sekarang jadi orang yang berarti banget buat gue ngirimin foto setahunan yang lalu. Kesimpulan yang bisa ditarik dari foto itu adalah; lo nggak akan tau seseorang yang ada di sebelah lo saat itu akan tetap jadi orang yang sama beberapa tahun lagi atau nggak. No one knows.

Gue dan orang yang berarti buat gue ini nggak pernah nyangka kalo kita bisa sampe ke tahapan ini. Kita udah saling kenal sekitar tiga tahunan. Selama dua setengah tahunan itu kita cuma temen baik yang saling dukung satu sama lain. I know his past, so does him. Murni, hanya teman. Kita saling kenal dekat sama masa lalu masing-masing. Tapi semuanya berubah semenjak…Tuhan memutarbalikkan dunia kita. Kita ngelewatin bulan-bulan yang sangat berat; dia sama masa lalunya dan gue sama masa lalu gue. Sampe akhirnya masing-masing kisah hidup kita sama orang yang dulu kita pilih, punya ending yang berbeda walaupun tetap segaris lurus.

Sebagai teman yang baik, being there for your best friend is a must. Kita sama-sama saling being there kalo salah satu dari kita membutuhkan bantuan. Intensitas pertemuan dan komunikasilah yang lambat laun tanpa disadari udah masuk ke dalam jalur which is not supposed to be best friend. Semakin nggak kuat buat nyiksa perasaan sendiri, akhirnya kita memantapkan hati dan pilihan to move our track.

Saat semua orang tau track yang lagi kita ambil sekarang, well, mungkin banyak yang pro, kontra, atau mungkin nggak nyangka. Semua orang di sekeliling kita jadi saksi hidup terhadap proses-proses apa aja yang udah kita lewatin. Jelas aja nggak nyangka. Tapi seharusnya nggak usah heran juga dong because this is Allah’s way.


Tadi malam sahabat gue bilang, “Kalo ada yang ngomong apa-apa nggak usah didengerin, Wis. Anggap aja angin lalu. Ini kan bukan kemauan lo.” Memang benar, ini bukan kemauan gue, this is what is called as fate. Lo mungkin nggak akan sadar kalo fate itu sudah diarahkan menuju lo dengan orang yang udah ditakdirkan untuk lo yang mungkin lo nggak akan nyangka. For those who do not know the processes about how this story ends, please do not even try to tell your assumptions to me because I will obviously choose to be the deaf :))

Saturday, 31 August 2013

A Sudden Romantic Poem

I never made a poem in English before. Since my lecture asked me to make it, so this one is mine. Iqbal Januari Pratama was my inspiration.

The sky every morning I look into becomes extremely dim for your presence has been coloring my whole world.
Neither a painter nor a carver can make a piece of art just like you make to my heart.
Every time you whisper a word means a world to me and I cannot resist this eager for always be with you.
When I miss your little whine, I come to the roof top hearing to the bird's tweet so this random feeling can be cured for a while.
People may say your little whine is an annoying little kid action but it means a lovely appeal to me.
I will either fight my weaknesses or restrain my will as long as I can gaze your beautiful eyes.
I love the part when you can be an ignorant man yet your love is deeper than my love.

Friday, 16 August 2013

"Kemerdekaan" di Kalimantan Barat

Dirgahayu RI! Well, yang diharapkan saat seseorang telah berada di tahun yang baru adalah untuk terus maju menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula yang sudah pasti diharapkan oleh rakyat Indonesia. Pertanyaanya, siapa yang harus mulai dibenahi terlebih dahulu; masyarakatnya atau pemimpinnya?

Setelah tadi sempat memindah-mindah channel di televisi, saya menemukan kenyataan yang ironi yang terjadi pada Negara kita sendiri. Ini terjadi di daerah perbatasan Malaysia dengan Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Pendidikan di Kalimantan Barat sangatlah memprihatinkan. Sekolah banyak yang letaknya jauh hingga membutuhkan waktu yang lama bagi anak-anak untuk menuju kesana. Bangunan sekolah juga tidak selayaknya sekolah yang berada di daerah Jakarta atau kota, para guru juga sering sekali terlambat atau bahkan tidak masuk. Akhirnya anak-anak pun terlantar di sekolahnya.

Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan sekolah di Malaysia. Bangunan yang sangat luas, gedung bertingkat nan bagus, dan beberapa ruangan menggunakan pendingin ruangan. Anak-anak bahkan diberikan oleh Malaysia pendidikan yang bebas biaya, diberi jatah makan siang, hingga diberi uang saku setiap harinya. Yang lebih mencengangkannya lagi, pemerintah Malaysia memberikan beasiswa sampai ke perguruan tinggi untuk anak-anak bangsa yang berprestasi.

Jika dibandingkan, tentu saja jauh sekali perbedaannya antara apa yang pemerintah kita lakukan dan pemerintah Malaysia lakukan. Siapa yang tidak ingin bersekolah di tempat yang serba gratis dan layak seperti itu. Saya juga pernah melihat acara televisi beberapa tahun yang lalu tentang orang-orang di perbatasan. Mereka menggunakan mata uang ringgit karena mereka lebih dekat untuk bertransaksi ke wilayah Malaysia dibadingkan dengan Indonesia. Mereka juga menonton acara televisi Malaysia hingga ada yang tidak tahu siapa presiden Indonesia karena mereka benar-benar tidak dijamah oleh Negara kita sendiri. Sejujurnya terasa teriris hati saya ketika melihat acara itu. Memang daerah perbatasan sulit sekali untuk dijangkau, tetapi jika terus menerus tidak ada pergerakan yang cepat dari pemerintah, maka lambat laun akan ada perpecahan di Indonesia.

Menjawab pertanyaan yang tadi saya tulis, dalam kasus ini yang sangat harus dibenahi terlebih dahulu adalah pemimpinnya. Mereka semua harus mampu menarik kembali masyarakat Indonesia dengan segala perbaikan yang minimal setara dengan apa yang Malaysia lakukan. Kemana para anggota DPR yang jumlahnya ratusan itu? Kemana para anggota DPD yang juga jumlahnya ratusan itu? Mulailah pemerintah membenahi diri dengan terus berupaya untuk selalu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Seluruh, tanpa beda!

Melihat persoalan-persoalan di Indonesia yang setiap hari makin menjalar, masyarakat dan pemimpin harus sama-sama sering mengintrospeksi diri. Masyarakat harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kemajuan bangsanya, harus selalu peduli terhadap apapun persoalan di Negara kita, dan juga harus selalu ikut andil dalam memajukan bangsanya. Pemerintah juga harus selalu menjadi medium yang mengayomi masyarakatnya, harus selalu memberikan semua yang masyarkat butuhkan untuk kemajuan bangsanya, dan yang terpenting harus selalu menjaga iman agar tidak terjerumus ke lubang-lubang kotor.

Saturday, 3 August 2013

Comedy Romance Movies

Dibilang movie freak sih engga karena gue tau ada orang yang jauh lebih freak dari gue, tapi dibilang biasa-biasa aja juga kayaknya terlalu sayang karena gue nganggapnya udah lebih dari biasa (menurut gue). Yaa agak lumayan banyak lah ya film yang selama ini menemani hari-hari gue di Jatinangor. Gue termasuk orang yang nggak suka nonton apa yang nggak mesti gue tau; horror maksudnya. In other words, you may say that I am a coward. Gue sangat suka film yang bergenre comedy dan comedy romance. Kalo lo penyuka genre yang gue sebutin tadi, so you should watch these!

1. The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) Poster
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blun, etc.

2. The Proposal (2009)
The Proposal (2009) Poster
Casts: Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Mary Steenburgen, etc.

3. Freaky Friday (2003)
Freaky Friday (2003) Poster
Casts: Jamie Lee Curtis, Lindsey Lohan, Mark Harmon, etc.

4. Bride Wars (2009)
Bride Wars (2009) Poster
Casts: Kate Hudson, Anne Hathaway, Bryan Greenberg, etc.

5. Ella Enchanted (2004)
Ella Enchanted (2004) Poster
Casts: Anna Hathaway, Hugh Dancy, Cary Elwes, etc.

6. Penelope (2006)
Penelope (2006) Poster
Casts: Richard E. Grant, Christina Ricci, James McAvoy, etc.

7. Just Like Heaven (2005)
Just Like Heaven (2005) Poster
Casts: Reese Witherspoon, Mark Ruffalo, Donal Logue, etc.

8. When in Rome (2010)
When in Rome (2010) Poster
Casts: Kristen Bell, Josh Duhamel, Anjelica Huston, etc.

9. Just My Luck (2006)
Just My Luck (2006) Poster
Casts: Lindsey Lohan, Chris Pine, Samair Armstrong, etc.

10. Serendipity (2001)
Serendipity (2001) Poster
Casts: John Cusack, Kate Beckinsale, Jeremy Piven, etc.

11. You Again (2010)
You Again (2010) Poster
Casts: Kristen Bell, Jamie Lee Curtis, Sigourney Weaver, etc.

12. Monte Carlo (2011)
Monte Carlo (2011) Poster
Casts: Selena Gomez, Katie Cassidy, Leighton Meester, etc.

13. Crazy, Stupid, Love (2011)
Crazy, Stupid, Love. (2011) Poster
Casts: Steve Carell, Ryan Gosling, Julianne Moore, etc.

14. Due Date (2010)
Due Date (2010) Poster
Casts: Robert Downey Jr., Zach Galifianakis, Michelle Monaghan, etc.

15. Ted (2012)
Ted (2012) Poster
Casts: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Seth MacFarlene, etc.

16. Bewitched (2005)
Bewitched (2005) Poster
Casts: Nicole Kidman, Will Ferrell, Shirley MacLaine, etc.

17. 13 Going on 30 (2004)
13 Going on 30 (2004) Poster
Casts: Jennifer Garner, Mark Ruffalo, Judy Greer, etc.

18. It's a Boy Girl Thing (2006)
It's a Boy Girl Thing (2006) Poster
Casts: Samaire Armstrong, Kevin Zegers, Sherry Miller, etc.

19. No Strings Attached (2011)
No Strings Attached (2011) Poster
Casts: Natalie Portman, Ashton Kutcher, Kevin Kline, etc.

20. Addicted to Love (1997)
Addicted to Love (1997) Poster
Casts: Meg Ryan, Matthew Broderick, Kelly Preston, etc.

21. When Harry Meet Sally (1989)
When Harry Met Sally... (1989) Poster
Casts: Billy Crystal, Meg Ryan, Carry Frisher, etc.

22. Parental Guidance (2012)
Parental Guidance (2012) Poster
Casts: Billy Crystal, Bette Midler, Marisa Tomei, etc.

23. Diary of a Wimpy Kid (2010)
Diary of a Wimpy Kid (2010) Poster
Casts: Zachary Gordon, Robert Capron, Rachael Harris, etc.

24. Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (2011)
Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (2011) Poster
Casts: Zachary Gordon, Devon Bostick, Rachael Harris, etc.

25. Diary of a Wimpy Kid: Dog Days
Diary of a Wimpy Kid: Dog Days (2012) Poster
Casts: Zachary Gordon, Steve Zahn, Robert Capron, etc.

P.s.: Rata-rata ini film komedi romantis dewasa di atas 18 tahun. Enjoy watching :)
sumber: imdb.com

Friday, 2 August 2013

What Are You Chasing for?

Gue terus bertanya-tanya sama diri sendiri dengan “apa sih yang lo kejar wis?” setelah beberapa hari yang lalu gue denger percakapan antara bapak dan ade gue. Kita baru pulang dari rumah bude gue. Kurang lebih begini percakapannya:

A: “Pak, kok cepet banget ya, padahal tadi dede mainnya baru sebentar.”
B: “Iya cepet, karna kamu suka. Coba kaya pelajaran matimatika (bapak bilangnya gitu), pasti kamu ngerasanya lama banget.”
Gue langsung mikir, “bener juga ya…”

Entah kenapa gue akhir-akhir ini kaya “disuruh” nonton film yang seolah-olah ngingetin gue sama kehidupan di hari akhir nanti. Setelah gue nonton Pacific Rim yang di ruang dimana Jaegernya dioperasikan, itu ada tanggal kapan kira-kira dunia akan berakhir karena mereka sempet pesimis kalo mereka nggak bisa ngelawan Kaiju. Ketika udah ada di tanggal itu, jamnya menghitung mundur. Bayangin, serem banget gak sih itu!

Terus yang kedua waktu gue nonton film judulnya Rapture Paloza. Ini lebih serem lagi soalanya nyeritain gimana manusia di detik-detik hari akhir. Kehancuran dunia udah sedikit-sedikit muncul. Hujan darah lah, benda-benda langit banyak yang jatoh ke bumi, jelmaan setan juga udah muncul dan dia yang nguasain bumi. Asli, merinding gue nontonnya. Meskipun akhirnya sangat non sense menurut gue karena ini film komedi gitu, tapi cukup menampar diri gue kalo bumi nggak selamanya hidup dan udah ada yang punya Kuasa atas semua yang sudah, sedang, dan akan terjadi.

Belum lagi, gue dikagetkan sama berita-berita yang makin ngawur banget. Entah yang anak mutilasi ibunya jadi berpuluh-puluh bagian lah, istri bunuh suami tapi abis itu langsung masak biasa lagi di dapur lah, sampe ke yang anak abg loncat ke sungai gara-gara internet connectionnya lemot. SO FUCKIN CRAZY! Gue yang baca berita itu lewat media sosial cuma bisa geleng-geleng kepala. Kelakuan manusia sekarang ini udah bener-bener gila. Ini makin nampar gue untuk menyadari kalo dunia udah ada di ambang yang di luar normal.

Makin takutlah gue akan kuasa Allah yang Maha Besar. Nggak ada lagi sebenernya yang perlu kita kejar di dunia yang semuanya hanya dihiasi kesenangan belaka. Jujur, gue takut saat di hari akhir nanti amal ibadah gue nggak sebanyak yang gue kira. Mungkin aja dosa gue yang terlalu banyak (AAAAK NA’UDZUBILLAH).

Sadar nggak sih kalo semua yang kita punya, kesenangan yang kita dapetin di bumi ini nggak selamanya kita bisa dapetin? Bumi mungkin bisa bertahan sampe beribu-ribu tahun, tapi namanya juga kehidupan dunia, ada batasnya. Apa lagi sih yang kita kejar? Waktu kita nggak banyak. Kita cuma disuruh berbuat baik, ngejalanin apa yang udah Dia perintahkan. Is that hard? Of course! Namanya juga manusia biasa, pasti adaaaaa aja sifat ke”iblis”annya yang kadang nempel. Tapi, masa berbuat hal yang baik-baik dan lurus-lurus aja nggak bisa sih? Bisa kok pasti. Allah nggak akan nyuruh kita berbuat “begini” dan “begitu” kalo kita nggak bisa ngelakuinnya. Wong Allah yang nyiptain kita kok, pasti tau kemampuan hamba-hambaNya.

“Maka adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.” (Q.S. An-Naazi’at (79) : 37-39)

I ask you once again, what are you chasing for?

Sunday, 28 July 2013

People Change

Udah banyak banget pepatah yang bilang kalo “People change”. Well, kalo kata Paramore di lagu “Brick by Boring Brick”-nya sih gini, the change is good. Menurut gue pribadi sih, it depends on what case, but mostly the change is good.

The change yang akan lo sadari terhadap hal-hal yang ada di sekitar lo adalah saat lo udah lama nggak ketemu sama hal itu. Ini juga yang pastinya bakal lo rasain saat reuni atau buka bersama sama temen-temen lama yang udah lama banget pastinya lo nggak ketemu.

Semakin dewasa seseorang semakin keliatan juga karakter yang melabelkan dirinya itu yang kaya gimana aja. Saat lo udah lama nggak ketemu sama orang lain lagi, mungkin aja karakter dia yang melekat di otak lo begini jadinya begitu. Kaget sih, pastinya. Kadang gue mikir, semua orang baik nggak mungkin bisa jatoh ke dalem lubang yang “nggak cukup baik” karena mereka pastinya tau yang mana yang baik dan engga. Tapi semua persepsi gue dihajar oleh waktu. No one knows what will happen to you. Cuma waktu yang kemudian bisa jawab.

Kaget, saat orang yang menurut gue dewasa dan paling dalem sama masalah “memaknai hidup” tapi tiba-tiba dia ngeubah labelnya  ke yang agak kurang baik di mata gue. Di mata gue ya. Your change is still good for some people. Gue sih nggak bisa ngapa-ngapain dan mendadak nggak suka sama orang itu, cuma saat ini dia lagi ada di kolom yang kurang baik aja di otak gue. Otak gue mencerna kata-kata temen gue yang bilang, “telat ya, masa bandelnya mau di umur segini. Umur segini tuh udah tinggal mikirin gimana caranya bahagiain orang tua.” Nampol banget lah kalimat itu!

Tapi nih ya, the change does not usually happen to people whom you seldom meet with, but also happens to people you used to meet even have a pretty good relationship with. Berdasar dari pengalaman dan cerita-cerita orang, kalo lo ngerasa ada yang berubah dari pasangan lo berarti lo ada di stage where you are in the unstable level. Gak stabil disini sih maksudnya lo lagi dalam tahap bimbang dan mikirin mau lanjut atau nggak karena dia bukan lagi orang yang seperti biasanya lo tau.

Kalo emang lo ada di tahap seperti itu, you have to face the fact that people change. Seseorang nggak mungkin berada di tempat yang sama karena dunia itu selalu berputar. Bahkan sekalipun dia nggak berubah menurut lo, sel darah dalam diri seseorang terus berganti. Cara ngatasinnya sih emang nggak gampang, tapi bisa dilakuin. Belajar nerima perubahan dia. Kalo emang lo ngerasa gak nyaman ya bilang, jangan diem aja. Manusia itu nggak selamanya bisa jadi mind reader.

Well, people change and will always change. If you do not realize it, maybe you are changing.

Friday, 26 July 2013

Iqbal Januari Pratama

Ngeliat banyak juga temen-temen gue yang gue tulis di blog, now I want to introduce you another friend of mine.

Namanya Iqbal Januari Pratama. Gue temenan sama dia udah sekitar 3 tahunan. Pertama kali gue liat dia itu waktu gue duduk di kelas 2 SMA. Kesan pertama gue sama anak ini adalah; rese. Serius, layaknya anak cowo pada masa itu, dia adalah anak yang rese menurut gue. Surprisingly, duduk kelas gue itu sitemnya zig-zag jadi weh dia technically duduk di sebelah gue. Karena duduknya sebelahan itu dan kadang juga depan-belakangan jadi kita sering ngobrol. Anaknya asik juga ternyata, nggak terlalu rese kaya anak cowo yang sebagaimana rese.

Hal yang paling gue suka adalah dia itu kalo ngomong langsung nyeplos. Jadi kemungkinan terbesarnya adalah, he is not a liar. He will tell you what he sees and he doesn’t care about what people think and say to him. Tapi kadang, saat lo terlalu jujur dan sometimes don’t filter your utterance, it will be a bomb for you. Yeah well, jujur itu emang perlu, tapi ada porsinya. Something which you don’t see doesn’t mean it is bad for you. Ada kalanya kita nggak perlu tahu hal yang emang pada dasarnya kita nggak tahu.

Dia juga orang yang solid dan loyal yang gue kenal. Sekalinya lo kenal dia, dan lo berhubungan intens sebagai teman sama dia, he will not let any hurt thing happens to you. Biasanya kan emang kalo temen cowok itu begitu, besides use what we cannot see or emotion, they use their powers too to protect their friends. Ngga cuma ke temen-temen cowo doi aja, tapi juga ke temen cewe yang dia punya.

Dia anaknya juga adaptable banget. Dia udah buktiin ke gue lewat pengalaman-pengalamannya dia. Doi kuliah di Aceh, yang kita tahu itu udh beda pulau dan di ujung Indonesia. Lewat hal-hal yang udah dia ceritain, he is a survival one. Menurut gue, susah banget loh bisa adaptasi sama lingkungan which is almost different from you used to. Secara budaya mereka beda sama budaya orang Jawa, but he can adapt. Tapi dia bilang sama gue, emang agak susah sih awalnya, tapi yaa lama-lama juga bisa. Apalagi disana dia termasuk kalangan minoritas, mayoritas temen-temennya itu orang Aceh sendiri.

Well, I am so grateful for having such a guy friend like you!

@iqbaljp


Saturday, 13 July 2013

Blessings in Holy Month

Alhamdulillah banget sekarang bisa ketemu lagi sama bulan Ramadhan yang sekitar 18 kali udah gue temuin. Bedanya bulan Ramadhan saat kuliah sama SMA itu kerasa banget kalo lo adalah anak rantau. Terlebih lagi, bulan puasa sekarang itu bertepatan sama liburan semester which means there is also a Semester Antara. DAN SEBAGAI MAHASISWI YANG SADAR KALO ADA BEBERAPA NILAI YANG HARUS DIBENERIN, JADI WEH LIBURANNYA DIKORBANKAN UNTUK BELAJAR. Asli itu caps lock lupa dimatiin. Peace.

Belum lagi momen pindah kosan yang pastinya juga butuh waktu persiapan yang nggak sebentar. Sadar kalo barang-barang di kosan yang notabene gue adalah seorang perempuan, itu pasti banyak buanget. Ya, begitu berbeda dari detik-detik bulan Ramdhan ini sama Ramadhan yang kemarin. Ditambah lagi, ehem, I’ve been a very happy woman because I do not have any guardian—boyfriend.  Well, bedanya sih nggak ada lagi yang bangunin sahur selain alarm dan ketukan pintu temen kostan tersayang.

Tapi nih ya, gue jadi mikirin banget dan ngerasa dapet pencerahan setelah kultum di shalat taraweh pertama berjamaah gue di bulan Ramadhan ini. Tadi kata penceramahnya, kalo aja orang-orang pada sadar kalo ternyata berkah yang ada di bulan Ramadhan itu banyak banget, pasti orang-orang akan berharap kalo setiap bulan adalah bulan Ramadhan. Bisa bayangin gak lo? Berkahnya luar biasa sob!

Terus tadi di sela-sela ceramahnya, gue baru mikir…kemana aja gue baru sadar kalo harusnya gue itu bersyukur banget kehilangan orang yang, well, meskipun udah lama di hidup gue, tapi itu artinya he isn’t good enough for me and I deserve the best one, rite? Halah sesi Ramadhannya jadi melenceng…

Balik lagi ke bedanya bulan Ramadhan yang sekarang sama yang kemarin. Jujur sewaktu gue memiliki komitmen dengan seseorang dan kebetulan seseorangnya itu bersifat posesif jadi gue sempet kehilangan sahabat-sahabat cowok gue. But…when the story has clearly ended, I just found that I was so fucking stupid for missing my guy best friends. Alhamdulillahnya, kita dipertemukan lagi. Seorang sahabat gue ini yang bernama @iqbaljp bilang sama gue kalo sejujurnya selama 4 tahun Ramadhan dia selalu biasa dibangunin atau ngebangunin pacarnya, tapi kalo sekarang beda banget karna doi udah gak punya pacar HAHA. Gue juga sih tapi nggak selama doi juga. Akhirnya kita memutuskan untuk saling membangunkan dan mengucapkan sahur dan buka karna kita sama-sama nggak punya pacar.

JADI YA, UNTUK KALIAN YANG NGGAK PUNYA PACAR, IT’S OKAY SOB…ALLAH HAS PREPARED YOU THE BEST ONE BUT YOU SHOULD WAIT PATIENTLY FOR THE RIGHT TIME. KALIAN BISA UCAPIN ATAU BANGUNIN SAHUR KE ORANG LAIN WHO IS WORTHIER THAN YOUR EX-DATE. Maksudnya, coba deh pikirin…apa yang lo dapet sekarang tu berkah banget. Kalo Ramadhan ini lo nggak punya pacar, pastinya sahabat-sahabat dan keluarga lo jauh lebih layak dapetin ucapan selamat puasa dari lo sob.


Tema nulis gue lagi nggak bagus nih, maklum malam minggu bulan Ramadhan jadi begini kepikirannya. I’m glad for sharing this :))))

Wednesday, 26 June 2013

Nothing is Easy

Lagi mau nulis yang random nih…

Ada kalanya saat lo jadi bagian yang nggak bisa diterima sama orang lain. Ada kalanya saat orang lain itu nggak ngelakuin apa yang lo lakuin. Ada kalanya saat orang lain itu nggak sebijak saat lo ambil tindakan. Ada kalanya saat orang lain nggak bisa ngasih apa yang lo kasih. Ada kalanya saat orang lain nggak ngerasain apa yang lo rasain. The point is; they are somebody else. Of course!

Tapi saat lo nggak ngerasain semua bagian yang sama kaya yang lo lakuin ke orang lain, lo bisa apa? Nothing, but take everything and live it. Gue juga kadang nggak ngerti deh, kenapa sih orang lain itu kadang nggak sama banget sama kita. Maksudnya tuh ya seenggaknya berusaha ngasih yang sebaik mungkin yang gue kasih, iya kan harusnya begitu?

Sometimes I wonder, what if somebody could read someone else’s mind? Wouldn’t that nice? Bagus dong! Lo jadi tau harus seberapa banyak porsi yang lo kasih untuk orang lain. Lo nggak akan pernah kelebihan atau kekurangan. Lo nggak akan pernah juga yang namanya ngerasain kekecewaan if something happened out of your expectation. Semua akan terasa adil. Semua akan terasa cukup. Semua akan terasa pas sesuai porsinya.


The fact is, life is not as like what you are expected. Life will always full of surprise. That is where you can learn about the unfair life. You should think more than twice to face others. That is because they are others. They are not you. You should sort out your words on your mind, think more than twice to be transferred to your lips, or if it is necessary you should use the other words to prevent the misunderstanding or the ambiguous meaning. Life is hard right? Yeah, but is there any easy thing in this life? No, because God wants we to struggle and keep in faith.

Thursday, 9 May 2013

I am with Maturity


I’m the oldest daughter in my family. Gue cuma punya adik satu, perempuan. Pastinya berantem terus. Kita adalah keluarga kecil yang bahaaaagiaaaa :)))))))

Gue adalah anak yang waktu dulu SMA selalu kena omelan sama ibu gue kalo masalah ngatur waktu sama yang namanya “dating”. Ibu adalah orang yang selalu bawelnya nggak ketulungan kalo gue lagi pergi sama yang namanya cowok. Ibu percaya sama gue, tapi percaya bukan berarti nggak bawel. Apalagi kalo untuk pergi malem, jam 7 aja udah dicariinnya kaya orang kebakaran jenggot. Tapi gue ngerasa seneng saat dicariin.

Dulu, gue juga cuma seorang anak ingusan yang dianggap nggak ngerti apa-apa, padahal udah SMA. Gue selalu menuruti semua perkataan orang tua gue. Bukan, bukan berarti sekarang gue nggak nurut sama kedua orang tua gue. Dulu, semua hal yang akan gue beli selalu ada campur tangan orang tua. Mereka harus tahu gue mau beli apa. Dulu gue bener-bener kayak ekor yang selalu bergerak kemanapun badan bergerak.

Tapi entah kenapa sekarang setelah kuliah, gue ngerasa beda. Gue tetap sama, tapi kedua orang tua gue yang memerlakukan gue dengan berbeda. Gue yang udah kuliah adalah gue yang selalu didengar pendapatnya sama kedua orang tua gue. Gue yang udah kuliah adalah gue yang dianggap bisa ngejalanin hubungan dengan lawan jenis. Gue yang udah kuliah adalah gue yang selalu diajak ngobrol sama kedua orang tua gue saat ada masalah dalam keluarga kecil kita. Gue yang udah kuliah itu….the mature me.

Gue ngerasa ini adalah proses gue menjadi orang dewasa. Dunia kuliah emang membawa lo buat menjadi orang dewasa yang sesungguhnya, apalagi dunia perantauan. Gue juga ngerasa banget ada beberapa sifat yang sekarang jadi kayak momok yang menggambarkan tentang gue, sifat yang membuat gue menjadi berkarakter, sifat yang membuat orang-orang kenal gue. Cara gue menyikapi masalah pun jadi beda. Gue ngerasa udah bisa memilih suatu hal dalam hidup gue yang itu nantinya jadi tanggug jawab gue.

Satu hal, gue bener-bener nggak nyangka kalo ternyata gue udah kuliah dan bisa jadi sedewasa ini. Gue bukan lagi anak SMA yang selalu pengen pendapatnya didenger sama orang tua, tapi gue jadi anak yang ditunggu-tunggu pendapatnya sama kedua orang tua gue. Meskipun pastinya masalah yang gue hadapin sekarang ini bukan lagi masalah ciprit yang dulu waktu SMA gue hadapin. Being a mature person is always hard even surely you can choose either you will take something or leave it. 

Wednesday, 8 May 2013

Garut - Lebak Bulus


Rumah adalah tempat favorit gue kalau liburan panjang (kayaknya tempat favorit semua anak rantau) atau kalo ada tanggal merah di hari kamis atau jumat. Selalu ada cerita saat perjalanan gue pulang dari Nangor ke Depok. Selalu. Tapi yang akan gue share disini cuma episode pulang gue yang sekarang, karena episode pulang gue yang kemaren-kemaren pasti ada hubungannya sama masa lalu HAHA.

Sebelumnya gue mau sedikit kasih tau dulu kalo sebenarnya I ever had a not-wanna-go-home syndrome. This syndrome occurs when actually you love your hometown so much but then someone—jerk—reminds you of your hometown so you hate it very much. Selama tiga minggu lebih gue mampu bertahan di Jatinangor dan sangat amat tidak tergiur untuk pulang.

Well, this is my second time to Depok since I have been being a…… (YOU KNOW ME SO WELL)
Hari ini hari Rabu, besoknya hari Kamis (IYA WIS IYA) tanggal merah. Sebenernya gue mau pulang hari Selasa tapi karena dosen itu kurang ajarnya kebangetan, jadi matkul hari Kamis ada make up class di hari Rabu. Tapi itu nggak menghalangkan niat gue untuk pulang sebelum nanti gue akan lama nggak pulang. Biasanya gue suka bareng Aling kalo mau pulang sampe ke pul  (I do not know how to spell and I do not know whether it is Bahasa or English) primajasa. Tapi minggu ini Alingnya nggak pulang dan dia bilang, “kaya anak ayam aja ntar gue kalo balik mulu.” Hikkssss sedihhhh :’’’

Primajasa adalah bus idaman anak Unpad. Udah murah, cepet, enak (kalo nggak ngantri). Dengan Rp 26.000,00 lo udah bisa balik ke Jakarta pake AC, kalo bus lain sih bisa sampe gocap. Tapi di Indonesia tuh harga nggak pernah boong. Bayangin, setiap mau long weekend kayak gini, tol cileunyi sama pul primajasa udah kaya ada di dalem gelas berisi cendol. Padet banget. Mau masuk aja rebutan dan ramenya ga karuan. Saat rebutan itu udah nggak liat status, mau cewe, ibu ibu atau anak kecil, kalo pas busnya udah dateng pasti langsung dorong-dorongan. Begitupun sama apa yang gue alami hari ini. Saat bus udah datang, gue ancang-ancang ambil posisi, yang gue liat di sekeliling gue cuma bergerombol-gerombol mahasaiswa yang mau pulang. Pas pintu bus kebuka dan semua udah saling mendorong, ada suara ibu-ibu teriak, “eh tolong itu ada anak kecil yang naik ya tolong, ya Allah….” Kasian banget pokoknya ibu-ibunya sambil bawa anaknya yang berumur 5 tahun. Tapi gue juga nggak bisa ngapa-ngapain karena gue pun butuh naik ke bus. Tapi dengan tidak mendorong si ibu itu membuat gue merasa gue udah sedikit ngebantu.

Sampai akhirnya….

Gue nggak dapet tempat duduk. Ada enam orang perempuan yang akhirnya harus duduk di depan (lantai) termasuk ibu-ibu tadi. Tiga jam duduk di tempat yang nggak-ada-empuknya-sama-sekali was definitely exhausted. Di tengah perjalanan ada bapak-bapak yang turun dan akhirnya ibu dan anaknya bisa duduk di kursi empuk primajasa. Karena gue duduk sebelah pak supir, yang gue liat cuma pemandangan jalanan aja, pas gue liat ke belakang, ternyata buanyak buanget orang yang pada berdiri. Primajasa bener-bener kaya cendol. Kaki gue udah teriak-teriak minta diselonjorin, pantat gue udah jejeritan minta duduk di kursi empuk. KAPAAAN INI SAMPENYAAAA??? Dan sebelah gue sudah berganti dengan sosok pria kacamata which reminds me of.... RANshjbfsjbv (nama doesn)! Yak, dosen ter-ngeselin sejagat raya!!! Ngeliat sebelah gue tuh rasanya pengen gue tonjok-tonjokkin deh. Eh, he also looked like orang yang gue sebelin. Intinya cowo itu udah mengingatkan gue sama dua orang cowok yang rasaya pengen gue kasih bogeman gue, errrr! 

Berangkat sekitar jam setengah 2 dan sampe pasar rebo jam 4.15. Gue berharap ada sinkansen untuk Bandung-Depok. Atau ngga, bus primajasa ditambahin jadi 20 unit jurusan Garut-Lebak Bulus dalam rentang waktu 1 jam. AAMIIN...

Friday, 3 May 2013

Love Jatinangor


Waktu gue jadi anak SMA, sama sekali nggak pernah muncul niatan sedikitpun di otak gue untuk masuk Unpad, jadi mahasiswi rantauan. Ada satu universitas di Jawa Barat yang letaknya cukup lumayan dari rumah gue, dan gue pengen banget masuk situ. Well, nggak usah disebut, I’m proud to be Unpad student. Hanya universitas itu yang pengen banget gue masukin, tapi ternyata Allah nggak mengizinkan gue untuk masuk kesana, so I’m here now—Jatinangor.

Yang gue tahu adalah, Unpad adanya di Bandung which means the life style and also the social life are really different. Bandung is well known for its freedom, creativity, and stylish people. Yang gue pikirin adalah whether or not I can adapt in the “new” society like Bandung.

Tapi ternyata, Unpad berada di Jatinangor—Bandung belah jauh abis. Jadi apa yang gue pikirin selama ini bener-bener beda. Jatinangor yang tiap gang sempit selalu ada kostan, sampe bener-bener ninggalin jalan cuma untuk satu orang aja. Jatinangor yang kalo pagi dan malam dinginnya berasa di Korea, anginnya berasa sekenceng badai Amerika. Tapi kalo siang….panasnya bisa bikin kulit keriput, gak nahan!

Awalnya, gue nggak suka banget sama Nangor—people usually call that to shorten it—dan Nangor pun awalnya nggak bersahabat sama gue. Suhu yang bener-bener ekstreme di Nangor bikin gue selalu cuma mandi sekali. Signal hp yang sampe mati-matian ngedapetinnya, harus angkat-angkatin tangan kayak tersesat di dalam hutan. Signal modem yang…bener-bener nggak ada harapan buat bisa konek. What a terrible kan :”

Tapi makin kesini, Nangor udah mulai bersahabat sama gue. Apalagi setelah gue pu…fsjfhjs, signal modem gue selalu full, padahal awal-awalnya cuma satu. Kata Annisa Hapsari, “Allah tu adil wis. Saat lo punya cowok, lo nggak dikasih signal modem. Saat lo jomblo, signal modem selalu ada buat nemenin kesendirian lo.” Makasih YA ALLAH…..

Satu hal yang paling paling gue suka dari Nangor adalah makanan. You can find everything in Nangor; dari kasta gorengan sampe steak. Nangor gini-gini punya mall loh yang isinya tuh kalo nggak anak Unpad ya IPDN, yang bisa ditempuh by foot in only 10 minutes. What a life banget deh! Makanan di Nangor murah-murah kok, dan nggak begitu jauh beda sama daerah rumah gue. Yang paling gue suka adalah, banyak warung dan tempat makan yang punya delivery service, even you only order a toast. Kalo lagi nggak punya duit terus di Nangor, itu malah kaya nyiksa diri, karena makanan-makanan disini nggak bisa bikin lo berenti ngiler.

The place that I never thought about before is the place that I like now and will become the place I spend my fully three to four years. I believe, the often you go to the other places, the more you will be able to adapt with people.