Showing posts with label share. Show all posts
Showing posts with label share. Show all posts

Friday, 10 October 2014

Iqbal’s Coming Home Surprised Me!

17 Juli 2014, sore itu, kedatangan makhluk yang paling aku tunggu-tunggu sangat membuatku terkejut. He is Iqbal, yang selalu membuat terkejut. Saat itu, aku sudah mulai bosan dengan rutinitas liburan di rumah yang selalu seperti itu setiap harinya. Aku sudah hampir 20 hari di rumah, tapi Iqbal belum juga pulang karena harus mengikuti Semester Pendek. (Tips untuk LDR: Jangan sampe ada yang ngulang dan harus SP, that sucks!) Rutinitas seperti biasa yaitu sahur-tidur lagi-beresin rumah-nonton tv-nonton film-mandi-siapin untuk buka-buka-tarawih-tidur. Terus selalu seperti itu. (Catat: mandi cuma satu kali!)

Aku sangat menunggu kedatangannya pulang, tapi sampai sekitar 20 hari aku di rumah saja Iqbal masih belum tau kapan bisa pulang karena dosennya masih pergi-pergi keluar kota yang akhirnya membuat Semester Pendek itu semakin panjang. Katanya, di pesan singkat yang sore itu dikirim. Sore itu kami sedang berbalas-balasan SMS (jadul ya SMSan). Tiba-tiba, ada seseorang yang mengucapkan salam dari luar rumah. Aku tidak menghiraukannya karena aku tidak begitu mengenali suara laki-laki itu dan aku pikir itu pasti teman bapak. Lalu ibuku berkata, “Kak itu ada temennya di luar.” What? Teman? Siapa? Aku bukan tipe orang yang suka bawa teman laki-laki ke rumah, selain pacar, tapi mana mungkin itu Iqbal. Aku malah menimpali, “Cowok bu?” Iyalah cowok! Dugaan itu bukan Iqbal semakin diperkuat karena ibu bilangnya “teman” bukan “Iqbal”.

Memakai jilbab dan jaket seadanya dengan kondisi BELUM MANDI, aku hampiri laki-laki itu ke teras. Guess who? IQBAL JANUARI PRATAMA! Dengan rambutnya yang sudah sangat berbeda dari terakhir kali aku menghabiskan liburan bersamanya (yang juga mambuat ibu tidak mengenalinya) dan pakaiannya yang begitu rapi, ia menemuiku. Mau tau apa reaksiku? CUMA NGANGA. Lebih detil tentang ekspresi mukaku saat itu bisa langsung ditanya sama Iqbal, yang jelas katanya sih “HARUSNYA TADI AKU FOTO YA.” yang mengimplikasikan kalo itu JELEK BANGET.

KESEL, TERHARU, SENANG, DEG-DEGAN, GAK TAU MAU NGOMONG APA adalah hal yang menggambarkan perasaan aku saat itu. KESEL karena merasa dibohongi, dia masih bilang di SMS kalau gak tau kapan pulangnya tapi malah udah pulang. TERHARU karena usahanya yang membuatku terus berkata dalam hati “you’re so sweet.”  SENANG karena akhirnya ketemu Iqbal. DEG-DEGAN karena ini pertama kalinya lagi ketemu Iqbal, selalu deg-degan kayak ketemu gebetannya. GAK TAU MAU NGOMONG APA because he has already taken my nerve to say something.

Aku masih belum bisa terima soal kebohongan-yang-membuat-aku berbunga-bunga ini, jadi waktu awal-awal ngobrol masih yang cuma bisa bilang “jahat banget sih!” Tapi nggak lama, aku malu sama aku yang belum mandi ini jadi aku mandi dengan hati yang berbunga-bunga hehe. Lalu kita ngobrol buanyak soal kita,  soal dia, soal teman-teman, dosen-dosen, nilai, kehidupan kuliah sampai membuat jadwal liburan kita dari hari ke hari.


Puasa hari itu dibuka dengan hati yang sangat gembira karena haus ini akhirnya hilang (literally and metaphorically). Kejadian di hari itu benar-benar tak terlupakan. Bahkan saat aku menulis ini, aku pun masih bisa merasakan semua hal yang bercampur dalam hatiku. Terima kasih banyak Iqbal untuk kejutan di hari itu!

That was our first date for this holiday

Thursday, 3 July 2014

Teruntuk Pemimpin Hebat Bangsa ini

Teruntuk Pemimpin hebat Bangsa ini,

Bagaimana kabarmu, Pak? Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dalam setiap langkahmu untuk membuat Negeri ini menjadi jauh lebih baik. Amin. Aku menulis ini untuk sekedar membuatmu tahu tentang paradigma yang dimiliki oleh sebagian orang bangsa ini, Pak.

Didoakeun ku nini neng matak pinter, soleh nya neng, amiin.

Itulah ujar salah seorang nenek yang saat itu aku kunjungi rumahnya karena ingin bertemu dengan cucunya untuk sekedar mengajak ngobrol dan belajar.

Sebelumnya, Pak, aku ini hanyalah seorang mahasiswi biasa, yang tidak begitu pintar, namun beruntungnya aku berada di lingkungan yang SDMnya baik. Terlahir dari anak seorang guru TK, ibuku menularkan kesukaannya terhadap anak-anak padaku. Sejak duduk di bangku kuliah, aku memantapkan diriku untuk sekedar meluangkan sedikit waktuku pada orang lain, khususnya orang-orang yang ada di sekitarku. Selama periode tiga semester, aku berhasil membagi waktuku dengan anak-anak di SDN Banyuresmi, Sumedang. Ingin mengembangkan diriku dengan anak-anak lebih dalam lagi, aku mengikuti organisasi yang berlatar belakang mengajar anak-anak di Sukanegla, Jatinangor. Namun, aku tidak hanya berinteraksi dengan anak-anak saja, melainkan dengan para orang tua di daerah yang masih sangat asri itu.

Kesan pertama yang ada dalam benakku setelah beberapa kali berinteraksi dengan para warga di Sukanegla adalah aku bagaikan raja. Mengapa demikian? Aku merasa sangat dihormati dan dijunjung sekali sebagai mahasiswa. Padahal, aku belum mendapatkan gelar sarjanaku dan mereka pun tidak tahu berapa IPKku, tapi mereka sudah membuat kami, para mahasiswa, seperti seorang raja, seseorang yang tahu segalanya.

Saat aku berkunjung ke rumah Nenek salah satu muridku, aku mendalami sekali apa yang ada di benak salah satu warga Sukanegla. Nenek itu selalu memujiku dalam setiap maksud yang ia sampaikan. Bahkan, ia memintaku untuk mencarikannya pekerjaan, atau paling tidak mempekerjakannya. Nenek itu beranggapan bahwa aku ini mahasiswa, yang kuliah dan punya uang.

Sejujurnya Pak, aku sangat lelah dengan paradigma itu. Aku lelah dengan paradigma bahwa mahasiswa adalah yang paling pintar, yang tahu segalanya, atau yang bisa segalanya. Tidak Nek, aku tidak tahu banyak tentang pengalaman hidup ini seperti Nenek. Aku baru menjalani hidup ini selama 20 tahun, Nek.

Mengapa harus ada diskriminasi profesi? Aku tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Apakah masyarakat desa yang terlalu rendah hati? Ataukah memang ada faktor-faktor lain yang membentuk paradigma seperti pada masyarakat yang berada di pinggiran kota di Indonesia?

Aku bisa sedikit menyusuri apa yang ada di pikiran para masyarakat di sekitar kampusku. Memiliki kendaraan pribadi sendiri, memakai pakaian yang bisa dikatakan sangat baik, dan memiliki gadget yang canggih, mungkin menjadi tolak ukur “mahasiswa” yang selama ini mereka lihat. Mereka berpikir bahwa dengan kondisi yang serba cukup, mahasiswa tentu bisa fokus dalam belajarnya. Tidak ada hal lain yang seharusnya dipikirkan oleh mahasiswa selain belajar.

Saat aku diberi beban yakni anggapan para masyarakat sekitar kampusku bahwa mahasiswa adalah yang tahu segalaya, aku hanya takut Pak. Aku takut tidak bisa mempertanggungjawabkan pemikiran itu. Aku, sebagai mahasiswa, hanya ingin menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar kampusku, bukan berarti dianggap seperti raja. Aku, seorang mahasiswa, masih harus belajar banyak dari masyarakat Sukanegla, bukan berarti dianggap yang tahu segalanya.

Untuk siapapun yang kelak akan menjadi Pemimpin Bangsa ini, aku harap Bapak bisa menghapuskan diskriminasi profesi itu, karena sesungguhnya, aku takut jika suatu saat aku melakukan kesalahan, mereka akan langsung memicingkan matanya, mengerutkan keningnya, dan menajamkan lidahnya padaku.

Terima kasih, Pak.


Changing Identity

This is another short story of mine in order to accomplish my score in final exam. Hope you like it :)

-

A cute puppy came to Amanda before she reached a cozy sofa in a little garden, made by many pillows that are no longer used, and barked as a signal for Amber that her best friend came. Amber, whose parents were very busy, welcomed her best friend with her shiniest eyes like her amber dress coloring the day.

“Do you bring…”

“Yes, hot cappuccino without cream from the Brew CafĂ©.” Amanda replied Amber’s not-finished question. She was the one who really understood her best friend.

“If you work there, I will be the happiest girl ever because my best friend always brings my favorite coffee.” Amber sipped her coffee.

“You wish!” Amanda played with the cute puppy. “I bring you my dress I talked about yesterday. Let’s look how this suits you!”

“Okay, I also have something to show to you.” The volume of the hollow pillows refilled as they went to Amber’s room.

Girls laugh filled Amber’s room, showing how happy they were to be best friends. Through the light of Amanda’s eyes’ color, everybody could see how honest she was to her best friend. She knew what Amber needed. Living with only grandparents who had restaurants in Philly made she love Amber very much as a sister.

“Sometimes I wanna be free.” Said Amber while starring at the mirror and fitting Amanda’s dress.

“Aren’t you free now?” Asked Amanda, stroking her hair. “I mean your parents always allow you to go to place you wanna go.”

“I wanna be someone else,” Silence replied their conversation. “Hey, why don’t we change our identity in the summer? You know…I’ve always wanted to be a 22-year-old girl.” Her starry eyes spoke to Amanda.

“Well, let me think about it.” Amanda did not want to be so easy to her.

It was Amanda’s turn to fit Amber’s dress, which she got from her mother from New York. The way Amanda let herself be helped by Amber was very truthful. She trusted her for entering her safety zone, which if anybody entered, it might be a threat for her. She revealed everything to her best friend, nothing left.

Fifty-year-old voice broke their laugh on young night. It was Amber’s mother.

“Honey,” Said her mother with a strong voice “oh, we have a very special usual guest here.” Said she lowering her voice.

“Mom…please!” Asked Amber like there was something between them had been discussed.

“Hello Amanda!” Greeted unpleasantly. “See you downstairs, Amber, ahem alone.” She threw the most unpleasant smile.

***

Summer came closer. In every conversation they had, Amber always asked for changing their identity. Being the third person whom she loved very much, Amanda thought she had to give Amber chance to live her life, so did she.

During summer, they decided to spend their time apart from each other to earn different experience. Amanda decided to go to Michigan while Amber went to Georgia, her grandma’s house. That was the time that changing identity was started. Since they went everywhere together, no one would much realize about them. Moreover, they went to another state, which no one would recognize. What they really needed to change their identity was only making a fake ID. Amanda was very good at this one—her ex-boyfriend was. Since they had known for a long time, it was not hard for them to change their habit.

In a happy friendship they created, Amber hid something from Amanda. School was a nightmare for her, no wonder Amanda was her only friend. Being tortured with unknown terrors this last year, she thought changing identity would be the best idea for a while. She was not as honest as Amanda was to her. She shared something but not everything. She had a hard time for trusting people, even if Amanda had nothing left to share.

Hiring an assassin was her certain decision. There were many steps to do but as long as her revenge motive controlled her, she could make it. She had the money to speak with an assassin. She did not reveal much about her identity, but the assassin knew a little about her name and address, because she asked to kill some suspects who studied at Rosewood Senior High School.

She asked to kill those suspects in the cruelest way he had. One of them was killed by falling from the church tower and sticking in the bell. The other suspect was killed by putting him on a big box and putting it on the railway. Another one was killed by putting him on a big box and sawing it with chainsaw.

She had made all of the suspects killed. She thought she could take a breath for a while until unexpected package was in her car luggage in Georgia. It was the assassin body. The assassin had been killed with a note “Georgia still can be grasped by one of my hand. Use your brain, bitch! Warm regards, A.”

***

Summer ended perfectly for Amanda since she met many new things in life. The perfect summer night was disturbed by the police knocking, searching for Amanda. She heard a little about being accused of serial killer. She was out of breath running to Amber’s house, hoping that she would explain what happened with her identity.

“Amber! Oh God!” She ran into Amber at her yard while she was sitting alone. Amber looked her with her empty eyes. She screwed as well.

“What happened? You must tell me about what did you do in Georgia with my identity that makes the police came to my house!” Silence replied her anger.

“What happened with you? Did you kill…?” Amber’s mother hit her with a golf stick and buried her in the place she had prepared before. Amber sat quietly and stared to her mother, smiling.


Thanks to: Netti Rahmawati for proofreading my work and checking my grammar. Arina Pramudita for helping me in my dramatization.

References:
- Buckley (Dir.). 2010. Pretty Little Liars TV Series. United States: Warner Horizon Television, Alloy Entertainment, Long Lake Production, and Russian Hill Production. 

Word Count: 966

Click here if you want me narrating you this story :D

Alona with Her Loneliness

On behalf of my midterm examination, I wrote this short story. Hope you enjoy this one :)

-

This road reminded me a lot about every single thing that happened to me ten years ago. In this intersection, that unstoppable smile accompanied me to get back to home and, at the same time, that unstoppable smile welcomed me to my new home. Ah! A small place, where in the rainy season there was no guarantee we would stay dry and warm, did not have any reparation physically yet it repaired my sight about the government that showed their empathy to this place.

I remembered exactly the first day I was welcomed by their warm greetings, but this special 100-centimeters child welcomed me with her hugs around my waist. Shocked and happy flew together with my blood. My brain told me to keep smiling until some utterance made me frown.

“Alona, why do you hug our beautiful teacher with your dirty clothes and hands?” asked the red one. She just showed her teeth happily.

“You don’t fit with us.” said the blonde one.

My heart deeply cried. I saw there was such a big wall that they built to make a relationship with her but the fact that she did not notice what they did made her smile last forever.

Haunted by Alona’s specialne, I talked to some people about her life. She was actually 17-year-old girl who lived by her grandparents because her parents worked out of town. She used to throw everything near her no matter it was alive or not. The last time I remember, she threw a cute kitty right after she kissed the kitty.

-

Days grew faster, the more I knew Alona was very different, the more I was sure she was a nice girl that nobody admitted it. She did not want to study using book and pen as many children were excited about, but playing some instruments and singing. Bonnie, a friend of mine, was very impressed when Alona asked to play his guitar and sing together.

Fire flamed through a long white curtain fulfilled entire rooms of village hall, made the screaming as a lullaby to Sukanegla’s civilization. Everybody was scattered around the hall bringing as many palls as they could. Alona’s eyeball moved from the right to left edge following her heart’s beat, showed her anxiety. She did not know what was happening and just sat cross-legged while kept closing her ears. Bonnie came to her and carried her on his back, which then made her anxiety faded away with carefully quick steps.

“You’re going to be alright, Al.” said he calming her down. She just smiled and murmured to him.
“Why are you so egoistic? You don’t know how worried I am now. Do you know how does it feel when someone you care about doesn’t seem care to you? It sucks!” He seemed angry with Alona yet he kept hugging her tightly in a crowded night. What she did was only grinning to him.

He brought her to a safe place where she felt like home. Everything seemed much fine to her when she was in her warm home, even though she always made everything fine. A warm home that she didn’t have to face the fact that not all of people cared about her led her to a new life she didn’t expect before. In his hug, she didn’t need to worry about what people said about her and how arrogant the world to her is. It didn’t last long because one by one people came to knock her home and kept messing her home.

“It’s all because of you! You’re no different with your parents!” said a fat woman while kept pointing her index finger to her.

“I am very sorry about what happened tonight that caused by my little sister but I think we cannot fully blame her because she’s only a special girl.” said Bonnie with a very calm voice.

“We all here have given up in tolerating this kid. It’s just her who cannot adapt with us!” replied her with a raising voice.

“The other students and I are trying to understand what Alona’s world looks like. We also want she adapts well in here, but it takes time. I’m sure she can behave way better than this gradually. I can guarantee.” said him with a strong voice.

-

Some teachers and I saw she had a hidden ability, or it was just us who did not notice her present. She showed some progress to us that she could pronounce quite clearly about Marawis’ song, even it just one or two syllables. She also could synchronize her mind and her body; which was shown when she took guitar and played it randomly. The good news in months she showed to us kept our smile last in our heart forever.

Word count: 797

References:
- Most of this story is based on one of my students' life at Taman Ilmu
- Instrumental musics from youtube

Click here if you want to hear me read you this story :D


Sunday, 4 May 2014

Sorry and Thank You

I don’t know what’s going on—no, I don’t don’t know—I mean, I literally know that something is wrong with our ship but I don’t know what really wrong is. Maybe it is just I who am too insensitive to him because things have been so rough recently and I guess my eyes are isolated somewhere. I cannot blame him, and in fact, I think he is okay, because he is the most loveable guy I ever met. As a driver, I should have driven very well. Just because some reefs crack our ship, doesn't mean I have to give up on driving because every ship must have a purpose of where to land.

If you read this, I just want you to know that I really feel guilty about what has happened. I need to be slapped hard in the face to believe that something big and real are happening right now. Okay, I feel so childish right at the moment I tap you these words. You've been really nice and sweet to me, but I know it is I who am not quite thankful.

The video you made for me was really touching. Thank you for being so romantic J

Thursday, 27 March 2014

Mahasiswa dan Politik

Bukanlah dunia yang kutahu banyak tentangnya, mendengarnya saja membuatku sedikit tersentak. Aku, mahasiswi yang sangat awam terhadap politik, tidak terlalu memerhatikan “politik” yang ada di lingkar kepalaku. Entahlah, mungkin juga tidak peduli. Semenjak aku bertemu banyak orang di hidupku, kata itu terasa makin dekat denganku. Semua orang berpolitik, ternyata, mengindikasikan bahwa tidak semua orang sepenuhnya baik. Jangan tidak siap untuk mengakuinya, kamu pun begitu.

Salahkah jika kita melakukannya? Menurutku, itu sudah menjadi sifat alamiah semua orang. Kekuasaan. Tentu tidak ada orang yang tidak ingin dilihat. Janganlah munafik, mahasiswa sejujurnya sangat pintar kan dalam ber”politik”? Tidak salah kok, yang terpenting adalah bagaimana menyiasati kata-kata “politik” itu sendiri agar tidak terdengar kasar di telinga.

Mataku terbuka lebar menyadari bahwa jalan ini terlalu luas jika dilewati oleh 1-2 mobil saja. Dalam kata lain, kemana aja lo, Wis? Satu hal yang pastinya tidak akan kusesali; bertemu banyak orang dengan berbagai macam pengalaman dan karakter pasti akan membuat kita jauh berkembang. Meskipun agak terlambat, tapi daripada aku tidak bertemu dengan orang-orang macam ini sama sekali.

Pendekatan yang dia lakukan untuk menyiasati makna “politik” layaknya sutra yang berhasil dibuat oleh laba-laba; lengket, elastis, dan sangat kuat. Mengetahui siapa saja yang menjadi oposisi kita merupakan langkah awal yang harus ada saat kita mulai ber”politik”. Selanjutnya kita hanya harus membiasakan diri dengan berbagai macam taktik untuk bisa ber”politik” dengan baik.

Satu kalimat yang memiliki banyak interpretasi yang aku dapat malam ini, “pemimpin itu tidak disetir”.

Saturday, 15 February 2014

Iqbal Januari Pratama (2)

To accomplish the full mission of on holiday with Iqbal, I write another post about him based on girlfriend's view.

It's been such a very long time since we haven't met as a partner. Akhirnya penantiannya terbalaskan juga. Sekitar hampir lima bulan baru bisa ketemu dan berbagi ceria dan cerita. Liburan semester 3 menuju semester 4 ini jadi cerita banget, sedihnya cuma bisa mengelus dada sama apa yang terjadi di dunia perkuliahan—dosen dan nilai—, tapi akhirnya ada pelangi; Iqbal pulang, yeay! Nasib tinggal di ujung Indonesia, biaya pesawatnya sangat tidak murah. Alhasil, dia harus berjuang makan sehari yang lima ribuan biar bisa nabung *starry eyes*. Iqbal sampai Jakarta tanggal 15 Januari 2014, sehari setelah ulang tahunnya. Bermodalkan roti berbentuk kura-kura yang dibeli dari toko kue kecil dekat rumah juga kayaknya Iqbal udah seneng hehe.

Actually, we’ve made places-to-go and things-to-do list for our holiday but due to the short time we had only some places we could go to and some things we could do. Hal yang belum terlaksana adalah ngajarin Iqbal Bahasa Inggris dengan silabus yang paling beda dan nonton Iron Man bareng seharian dari 1-3. Sedihhhhh. When ldr people have their holiday together, it doesn’t guarantee they will not argue and have some “berantem-berantem unyu”. We did that. Yang harus aku akui adalah, dia orang tersabar yang pernah aku temui. With his simple and mature mind, he could carry me out from my selfishness. Baru kali ini dalam satu hari, yang bener-bener bete banget awalnya, sekitar satu-dua jam kemudian udah lupa sama apa yang bikin bete dan udah ketawa-ketawa lepas bareng lagi.

Kenal sama Iqbal sih udah lama, cukup lama, tapi beda rasanya kenal sama Iqbal sebagai teman sama sebagai pacar. Sewaktu jadi pacarnya, semua hal yang dulu didapet sebagai teman juga masih didapet sekarang. Dari dulu SMA sampai sekarang jadi pacarnya, dia masih tetap jadi cowok iseng yang pernah aku kenal. Masih suka miting-miting gitu kalo lagi geregetan, masih suka masukin jari orang ke lubang hidungnya, dan masih suka kentut sambil bergaya. But that’s what I love about him. Nggak banyak bedanya kok pokonya, kita seneng banget bertukar pikiran ngobrolin banyak hal kayak dulu di SMA. Sebagai teman yang tahu cerita masa lalunya, menurutku dia sudah berhasil melewati fase ketidakstabilan karena sekarang dia sudah jauh lebih dewasa dari Iqbal yang SMA. Apa ya…dia tuh kalau sudah tulus melindungi seseorang pasti dia akan melakukan semua semampunya dia, bener-bener dengan perjuangannya pokoknya. Dia juga orang yang sangat bisa membahagaiakan pasangan dengan semaksimal mungkin karena itu prinsipnya. Ada beberapa hal yang selama ini masih jadi pertanyaan-pertanyaan di otakku yang didorong sama Iqbal juga, apakah selama ini masih kurang juga ya usaha kamu, Wis? He felt that I’m not really total to my effort. Bingung sih asli. Terus mikirin apa yang salah dan siapa yang salah. Lama-lama bisa belajar juga tentang apa yang dimaksud sama dia. Semua orang emang punya cara yang beda-beda buat membahagiakan pasangannya, tapi kan kalo ngelakuinnya maksimal pasti beda rasanya. Maaf ya Iqbal. Ngerti kok sebenernya apa yang ada di pikirannya, karena sebenernya yang namanya pasangan tuh saling merefleksi. What you did ya what you got. Pokoknya begitu. Dia juga penuh kreasi gitu dalam mewarnai hubungannya. Dia adalah orang yang nggak pernah berhenti belajar, terbukti karena dia sering banget baca artikel-artikel dan video-video yang sekiranya bisa ngebantu dia dalam ngejalanin hubungannya. Sisi lain yang paling aku suka tentangnya adalah, cara dia ngemong anak kecil hehe. Dia sih cuma bilang biasa aja sama anak kecil sedangkan aku sangat suka anak kecil, tapi waktu aku main ke rumahnya dan bertemu ponakan cantiknya, cara dia menyayangi anak kecil tuh sweet HAHA. Bukan yang dielus-elus terus diciumin gitu, nggak, tapi diajak bercanda terus digendong-gendong, dilempar-lempar sampai ponakannya tertawa kegirangan. It looks sweet for me.

Hal yang bikin nggak srek adalah dia terlalu mengarahkan sesuatu. Maksudnya gini, mungkin tujuannya itu baik biar semuanya berjalan baik mengingat apa yang sudah masing-masing lakukan, tapi menurutku kalau misalnya terlalu ngarahin, minta gitu juga jadi pusing sendiri. Tapi nggak banyak kok karena aku tau maksudnya. Iqbal juga kalau udah main game online tuh lupa sama seluruh dunia dan isinya. Kayak yang he lives for game, ya nggak papa sih sebenernya ditinggal main game selama masih ada film yang bisa ditonton, tapi ya kalo bisa nggak lama-lama juga dari jam 4an sampai jam 10 malam begini. Oh iya, kemarin juga sebenernya aku sih biasa-biasa aja sama rambutnya yang gondrong karena aku tahu perasaan laki-laki selalu berambut pendek terus dan sekali dia nyaman dengan rambut panjangnya, dia nggak akan potong, tapi kalau disuruh milih sih sukanya sama rambut Iqbal yang pendek aja. Balik lagi sih, kalau dia suka ya mau diapain dan aku sih nggak papa-papa aja.

Gitu deh pokonya Iqbal, yang jelas I’m really into him.
Ini foto yang paling favorite hoho

Oh iya Iqbal udah potong rambut loh sekitar tanggal 10 atau 11. Yeay!

Tuesday, 7 January 2014

Tidung Island

Hello 2014!
I'm pretty sure everybody has their own wishes for every year. Let's make best effort and let God do the rest! Aamiin.

Weekend pertama di tahun 2014, saya dan keluarga berkesempatan untuk mensyukuri nikmat Tuhan dengan pergi ke Pulai Tidung. For God's sake, that was the first time I rode a speedboat in an hour and it successfully made my heart beat uncontrollably. On one hand, Pengalaman naik speedboat menjadi nggak asik karena saat itu speedboatnya berlawanan arah dengan ombak. Mual. Pasti banget itu. Nggak tenang juga iya. Gimana mau tenang kalau adek yang duduk di sebelah terus berkicau, "huaaa takut!"


On the other hand, you would never stop saying something to show your gratefulness. I bet. Ombak yang menggulung-gulung tinggi yang mampu membuat jantung jadi tidak karuan berubah saat birunya air laut memberikanmu ucapan selamat datang yang hangat. Waktu itu, saya bersama rombongan dari kantor Ibu saya berangkat menuju Ancol setelah habis shalat subuh. Kami semua benar-benar berangkat dari pintu masuk tol Cijago menuju Ancol sekitar pukul 06.30 WIB. Kami tiba di Marina, Ancol pukul 07.30 dan mobil kami diparkir di tempat yang sudah disediakan, biayanya Rp 20.000 semalam. Perjalanan dari Marina ke Tidung menghabiskan waktu satu jam, tetapi jika dari Muara Angke, yang saya tahu, sekitar dua jam.
Dermaga Marina Ancol



 Iseng naik sepeda sambi cari spot yang bagus untuk difoto, ini potret Pulau Tidung dari sisi lain

Potret dari sisi yang lain lagi

Ada tambahan cerita seru. Setelah mengayuh sepeda berdua dengan adik di siang hari selama 10-15 menit karena dibuat penasaran oleh jembatan cintanya Pulau Tidung, sampai juga kami di jembatan cinta. Tersadar bahwa ada tulisan, "parkir sepeda Rp 2.000", adik memanggil saya memastikan jika saya benar-benar tidak membawa uang. Dengan jantung yang tidak karuan, kami balik lagi dengan saya yang memberanikan diri berkata, "bang, mau balik lagi ya bang." Untungnya abang-abang penjaga itu memberikan izin kami keluar tanpa bayar. Makasih bang hehe. Fyi, untuk yang jalan kaki tidak kena biaya kok. Oh ya, transportasi disana hanya ada sepeda dan becak motor. Becak motor bisa dinaiki lebih dari dua orang jika mau, karena penumpang juga bisa duduk di belakang supir. Ini juga pengalaman terbaru saya terhadap transportasinya, karena mengingat perjalanan yang telah dilalui cukup menegangkan dan berharap agar perjalanan lautnya segera berakhir, berbeda rasanya saat liburan tetapi masih dikelilingi oleh kendaraan berplat B karena Pulau Tidung masuk ke dalam Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta.


Sore harinya sekitar pukul 14.00 WIB, saya bersama rombongan naik perahu yang berukuran sedang untuk bisa menyelam di tengah lautan. Kami dibawa berkeliling di tengah gulungan ombak dengan jantung yang tentunya semakin tidak menentu karena semakin kecil kapalnya dengan ombak yang semakin besar membuat kami takut, apalagi kemiringan kapal sangat terasa jika ombak sudah menggulung.

Gambaran perahu yang saya naiki, tetapi ini perahu rombongan lain

 Saat di tengah laut



Beningnya air di Tidung


Jembatan cinta

Pria yang Merobek Pikiran

messed up | Tumblr

Mataku berkaca-kaca saat ku tahu ada yang datang. Bukannya tidak senang, tetapi mengetahui siapa yang datang yang membuat jantungku berhenti seketika. Seorang pria dewasa, membuka pintu tepat beberapa detik setelah aku duduk di kursi yang dipersilakan, ia melihatku sekejap lalu kembali mengurusi pekerjaannya. Beberapa detik yang cukup merobek pikiranku. Aku hanya termenung memikirkan apa yang terjadi denganku karena tak ada yang mampu menolongku. Sedih. Kacau. Kata-kata yang membingkaiku saat itu.

Image source: http://weheartit.com/entry/75505969/via/arantxacf

Friday, 29 November 2013

Oh Cabai


Good evening, everyone!

Mungkin beberapa orang yang kenal sama gue udah tahu kalau gue nggak suka sama cabai. Bukan cuma cabai aja sih, apapun yang mempunyai rasa pedas nggak cocok sama lidah gue. Mungkin beberapa dari kalian juga penasaran kenapa gue nggak suka sama cabai dan apapun yang pedas-pedas, termasuk sindirian pedas. Gue disini pakai kata mungkin untuk menghibur diri sendiri. Ya kan beranggapan aja kalo bakal ada yang penasaran. Bantu senengin gue ya.

Saat gue keceplosan makan pedas, gue nggak alergi kok, tapi lidah gue rasanya menolak mentah-mentah buat si rasa itu masuk. Ada beberapa alasan yang membuat gue nggak suka banget sama cabai dan apapun yang pedas.

Pertama, pedas tuh ya…pedas. Gue nggak ngerti saat teman-teman gue nanya ke gue, “Wis, kenapa gak suka pedes?” Gue cuma jawab, “Ya karena pedes.” Gue terus memutar-mutar apa yang ada di otak gue, pedas kan pedas, kenapa juga masih tanya gak suka. Pedas tuh ya nggak enak, menurut gue. Entah kenapa, mungkin saking jarang bangetnya makan pedas, jadi indra pengecap gue bagian perasa pedasnya tuh masih berfungsi dengan sangat baik. Saat teman gue suka sama pedas, menurut logika gue, berarti tempat untuk merasakan rasa pedasnya udah semakin kebal sama rasa pedas, jadi nggak heran ada yang tingkat kesukaan sama makanan pedasnya tuh meningkat. Begitu pula yang terjadi dengan gue. Berhubung gue nggak suka pedas, jadi tempat merasakan pedas di lidah gue masih berjalan baik dan kalau kesentuh makanan pedas sedikit langsung terasa.

Kedua, pedas tuh bikin gue ngeces.  Bahasa Sundanya tuh ngacay, ya pokoknya hasil terjadinya air liur berlebih yang tidak bisa tertampug oleh mulut. Kebayang nggak tuh kalau gue lagi makan bareng-bareng tau-taunya makanannya pedas dan bikin gue ngacay. Masalahnya, karena yang nggak pernah suka sama pedas ini udah dari awal banget lahir ke bumi, ngacaynya tuh nggak sebentar. Kan jadi bete sendiri meskipun yang ngacaynya gue, kalo nanti air liur gue habis gimana? Ya maklum, bukan anak biologi jadi taunya air liur bisa habis.

Ketiga, pedes itu bikin gue harus banyak minum. Faktanya, gue termasuk orang yang cukup lumayan sering minum saat makan, karena  gue udah dibiasain untuk minum air putih yang banyak sama Bapak Prasetyo. Terbukti dari jaman SD sampe kuliah gue selalu bawa botol minum sendiri ke tempat gue sekolah. Kebayang nggak kalo gue udah sering minum pas makan, eh makanan yang dimakannya pedas. Kemungkinan gue minumnya akan jadi berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pengalaman yang paling gue ingat adalah, waktu itu di kelas 9 SMP, gue belajar bareng teman gue di rumahnya, karena udah jam makan siang, ibunya masak mie goreng untuk kita, tapi sayangnya teman gue ini lupa bilang sama ibunya kalau gue nggak suka pedas jadi weh sambal di mienya dicampur sama ibunya. Gue yang saat itu sudah bisa mencium aroma sambal di mie gue cuma bisa berdoa dan makan mie itu dengan penuh rasa menghargai ibunya teman gue. Seinget gue mienya nggak habis karena gue sudah super kekembungan akibat minum 1,5 liter air putih. Gue nggak kuat jalan dan ngapa-ngapain saat itu. Dada gue udah sesak banget karena napas gak bisa kekontrol akibat kekenyangan.

Please, don’t “lebay lo!” me. Gue tau emang mungkin terdengar amat berlebihan bagi orang lain, tapi terimalah gue apa adanya. Halah Wis. Sampai sekarang, sudah banyak teman dan semua orang yang dekat sama gue memotivasi untuk bisa menyembuhkan gue dari ketidaksukaan terhadap pedas ini. Sampai sekarang sih gue masih nggak bisa makan cabai dan yang pedas-pedas. Meskipun gue udah sekitar 51.411.663 kali ditipu sama penjual makanan nasi goreng, mie goreng, dan sebagainya, tapi gue masih nggak makan pedas kok, karena Bapak Prasetyo selalu melindungi gue dari serangan cabai dan aneka pedas-pedasan, yippiiii!!!

Well, gue merasa ini anugerah, karena gue berbeda dengan yang lain haha. Sampai sekarang teman-teman dan pacar gue masih bersama gue kok meskipun gue berbeda.

Sumber gambar: http://viknovi.blogspot.com/2013/01/cabai-merah.html

Friday, 25 October 2013

Happy Birthday to Me!

Selamat ulang tahun ya Wisny…semoga bisa sehat selalu, dikelilingin sama orang-orang yang baik, dimudahkan urusannya, dan tercapai semua cita-citanya aamiin! Loh, nggak apa-apa kan doain untuk diri sendiri? Hehe. Semoga yang membaca juga berbalik ya doanya :D

Well, I’m 19 now!

What do I feel? Nothing’s different but I think this is the time to show to everybody that it’s me, I exist.

How is that? Doing many things very well and being the extraordinary one.

Being nineteen is like I have more responsibility to take and to live it by myself. Nobody can help but me. Bahkan kayaknya tuh udah bukan saatnya lagi lo berada di balik punggung orang tua minta bantuan mereka, tapi lo yang harus siap pasang dada untuk ngelindungin orang tua lo. Ngelindunginnya pake kesuksesan yang udah lo capai selama ini sehingga mereka punya anak yang bisa dipasang dadanya di depan mereka saat orang lain nanya, “anaknya gimana pak/bu?” Orang tua lo tinggal pasang dada lo di depan mereka dengan bilang, “Alhamdulillah pak/bu, begini sekarang.” Whooaaa, what a life!

Di ulang tahun yang ke-19 ini gue sangat bersyukur buanget punya temen-temen yang selalu ada buat gue, dan alhamdulillahnya pacar yang beberapa bulan ini mewarnai hidup gue. Cerita kejutannya sederhana dan bermakna, dan gue tetep terkejut karena ketidakpekaan gue terhadap sesuatu hal. Jadi hari Jumat itu, @annisahaps @arinaprm dan @NettiRahmawati nonton three on three di kampus. Gue sih emang nggak terlalu tertarik sama basket, ditambah lagi hari itu gue punya gosokan yang udah teriak-teriak minta perhatian gue, jadi nggak masalah buat gue untuk nggak ikut mereka. Sekitar jam setengah dua siang saat matahari lagi puanas banget kalo di Jatinangor, tiga kucrut itu dateng ke kosan gue dengan bawa kue. Gue seneng banget akhirnya bisa ngerayain berempat lagi, lengkap! Ceritanya beda sama pacar gue yang semenjak dari kemaren udah mulai cuek sama gue. Emang dasarnya gue nggak peka, gue cuma sakit hati sedikit karena dia cuek sama gue. Sakit hati gue bertambah banyak setelah dia cuma ngeread whatsapp gue dan ngucapin happy birthday jam 3-an. Saat itu gue cuekin balik, dalam hati gue cuma bilang, “terserah lo deh.” Sekitar jam 9 malam, ada yang ngetok pintu kamar gue dengan suara ketukan yang kenceng dan buru-buru banget, suara ketukannya kayak ngetuk pake kentongan, sumpah. Disitu gue takut banget, gue takut kalo itu orang jahat atau apapun. Terus gue langsung minta pacar gue untuk nelfon gue dengan segera. Dia bilang kalo itu bukan siapa-siapa dan minta gue buat nengok keluar. Ya gue takut lah, banget! Sampe Iqbal memohon buat buka pintunya, baru gue buka setelah 10 menitan. Jeng jeng! Gue dapet dua bingkisan. Dua-duanya dari Iqbal. Bingkisan pertama tuh hasil gambarnya dia gitu, gambar huruf “W” dihias sama pesan-pesan dan harapan dia buat gue, ditambah surat yang mencurahkan isi hatinya buat gue. Bingkisan satu lagi adalah sweater merah yang lucu banget, ngingetin gue sama Iron Man, ughhh! Waktu gue lagi ngeliat keseluruhan sweaternya, label harganya belum dicopot. Duh iqbal lupa bilang sama abang-abangnya, jadi ketauan deh kan :p

Well, my nineteen is full with gratefulness. Nggak ada habis-habisnya gue bersyukur dikelilingin sama orang-orang yang baik banget di hidup gue. No more precious birthday than your life is fulfilled by worthy people. Happy 19 on October 19th!

Monday, 21 October 2013

Backpacker ke Jogja

Hello fellas!
It’s been long time since I didn’t write anything and just updated the old post. Sekarang gue mau berbagi pengalaman tentang liburan yang sebenernya udah lewat cuma baru sempet nulis sekarang. I went to Jogja last holiday. Sebenernya sih bukan liburan yang mewah, gue dan teman-teman SMA gue kesana berlibur ala backpacker. Gue punya beberapa tips yang sebaiknya lo lakuin sebelum pergi liburan.

  1.  Decide where you want to go. Pastiin lo mau pergi kemana dalam jangka waktu minimal 3 bulan sebelum keberangkatan. Jangan anggap sepele karena tiga bulan itu terhitung sebentar dan nggak setiap hari juga lo akan keingetan tentang liburan lo, so decide immediately.
  2.  Make sure who will join. Masalah yang ini juga bisa dihitung sebagai masalah serius karena kadang ada juga orang yang mungkin belum pasti terus agak lama ngasih kepastiannya. Cara ngatasin temen yang kaya gitu harus dengan omongan baik-baik, bilang aja kalo dia belum pasti nanti lo susah booking penginapan dan tiket keretanya. Kalau dia belum pasti karena susah dapet izin dari orang tuanya, mungkin lo dan temen-temen yang lain bisa bantu ngomong ke orang tuanya.
  3. Book train ticket and hotel ASAP. Sebenernya yang jadi main pointnya itu booking penginapan. Jogja bukan kota yang nggak terkenal, dan jangan kira kalo yang bakal liburan kesana itu cuma lo doang meskipun lo liburan di bukan hari libur. Gue sempet punya pengalaman, rencananya beberapa minggu lagi gue mau berlibur kesana, tapi karena baru fix tentang siapa aja yang mau ikut di H-14 jadi gue dan temen-temen baru mulai panik cari penginapan. Luckily, kita masih sempet dapet hotel kelas bawah setelah hampir 30 kali nelfon ke setiap penginapan. Semakin awal lo booking, semakin bisa dapet penginapan yang terjangkau dan enak juga. Kereta sih sebenernya masih bisa lo dapetin dengan cukup mudah, apalagi kalo yang berangkatnya dari Jakarta. Lo bisa pilih untuk naik kereta yang pastinya udah didiskusiin sama lo dan temen-temen. Untuk sampe ke Stasiun Tugu, lo bisa naik kereta ekonomi yang notabene sekarang ekonominya udah pake AC, kisaran harganya 140 ribu. Kalo emang lo mau naik yang the real economy class, itu nggak turun di Stasiun Tugu, lo akan turun di Lempuyangan. Kalau yang dari daerah sekitaran Bandung, itu naiknya dari Stasiun Kiara Condong dengan harga tiket kisaran 50 ribu. Biasanya sih untuk liburan ala murah meriah bisa pake kereta ini. Jangan khawatir, bisa booking online juga kok.
  4. Make an itinerary. Ini juga bisa jadi salah satu masalah saat liburan. Jangan sampe saat udah excited banget bisa ke Jogja eh nggak taunya cuma tau Parangtritis sama Candi Borobudur doang. Don’t waste your time, buddy. Bisa liburan bareng temen-temen tuh once in a blue moon. Sebelum lo berangkat, kenali dulu kota itu dengan baik, cari tau tempat mana aja yang bakal lo kunjungin. Jangan sampe ada hari dimna lo nggak tau mau kemana lagi. Jangan sering-sering di penginapan juga, it’s a waste!
  5. List all of things you must bring. Pas lagi nyantai nih, mending lo tulis daftar apa aja yang harus dibawa untuk pergi. Sehari sebelum berangkat bisa lo check lagi sebelum akhirnya lo nyesel ada satu barang yang nggak kebawa padahal itu bisa jadi penting.
  6. Prepare yourself well. Jangan cuma perlengkapan sama tiket-tiket aja yang udah lo siapin, kesehatan diri sendiri juga. Jaga kesehatan sebelum pergi, karena ga akan seru banget kalo lo liburan tapi malah sakit. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh juga sebelum lo liburan, pokoknya siapin diri lo sebaik mungkin.

Mungkin ini bisa jadi referensi untuk liburan ke Jogja kalian. Ini daftar perjalanan yang waktu itu gue lakukan dari hari Selasa, 20 Agustus 2013 - Sabtu, 24 Agustus 2013.

Day 1 (Selasa)
14.00 Berangkat dari rumah ke stasiun Senen
18.30 Kereta berangkat

Day 2 (Rabu)
03.00 Sampai di Stasiun Tugu
05.30 Berangkat ke penginapan
06.00 Istirahat di penginapan (ngelempengin kaki)
10.00 Mandi dan beres-beres
11.00 Berangkat ke Taman Pintar
16.00 Sampai ke penginapan, istirahat
19.00 Main di sepanjang jalan Malioboro
22.30 Kembali ke penginapan

Day 3 (Kamis)
09.00 Mandi
10.00 Berangkat ke Pantai Indrayanti naik mobil sewaan
12.00 Sampai di Pantai
14.00 Berangkat  ke Gunung Api Purba
15.30 Sampai di Gunung Api Purba
18.30 Berangkat ke Bukit Bintang (Kalau nggak salah)
19.00 Sampai di Bukit Bintang
20.30 Sampai di penginapan
22.00 Berangkat ke patung SUPERSEMAR
00.30 Sampai di penginapan

Day 4 (Jumat)
09.00 Sewa sepeda
13.30 Belanja ke Malioboro
15.30 Jalan-jalan naik sepeda
20.00 Makan
21.00 Berangkat ke alun-alun utara
23.30 Minum Kopi Jos
01.00 Tugu
02.30 Sampai di penginapan

Day 5 (Sabtu)
08.00 Beli oleh-oleh
09.00 Mengembalikan sepeda
09.30 Sarapan
10.00 Istirahat, packing
15.00 Berangkat ke Stasiun Tugu
18.00 Kereta berangkat

Ini adalah beberapa tempat yang gue kunjungin waktu di Jogja.

Stasiun Tugu adalah stasiun yang beda banget dari stasiun yang pernah gue kunjungin. It is very cozy station! Nuansa Jawanya berasa banget, nyamannya juga berasa di rumah karena stasiun ini bersih banget.

Pemandangan Gunung Api Purba di jam setengah lima sore

Bebatuan Gunung Api Purba

Perempuan manis di Gunung Api Purba (peace)

Bukit Bintang is very incredible!

Ke Alun-alun Utara tuh mesti banget naik sepeda neon yang seru banget!

Tugu Cinta! Boong deng, Tugu Jogja!

Perhatiin lampu-lampunya aja ya

Salah satu hewan di Taman Pintar

Ilmu astronomi di Taman Pintar

It's Physics

Ini makhluk yang menghibur selama di Jogja

Di depan Taman Ilmu

Ini keadaan di malam harinya Jalan Malioboro ujung, dekat gedung BNI. Foto ini diambil di depan Benteng Vredeburg. 

Ini di sisi kiri Benteng Vredeburg


Pantai Indrayanti yang super beautiful!

Perhatiin pemandangannya aja ya, dia udah punya pacar

Well, Jogja was very memorable and incredibly awesome place!

Friday, 27 September 2013

Perhatian dan Pengertian

Perhatian dan pengertian sebenernya adalah dua hal yang sejenis, menurut gue. Gue mulai aware dengan dua kata ini setelah pengalaman untuk ber-LDR diuji lagi. LDR yang lagi dijalanin bukan sekedar antarprovinsi yang bisa sebulan sekali ketemu, we are in the different island. Beda pulaunya juga nggak yang berarti deket terus bisa ketemu mungkin tiga bulan sekali, tapi dia ada di Sabang, Indonesia.

Nggak gampang emang buat memutuskan untuk kembali menjalani LDR kalo orang yang akan jadi partner lo cemen banget. Dengan pengalaman LDR yang pernah gagal, untuk seorang perempuan yang sangat perlu komitmen, it was a hard decision. Beruntungnya karena ternyata partner yang sekarang punya daya juang yang tinggi untuk mempertahankan dan memperjuangkan, so nothing to worry.

Pasangan gue memiliki cara pandang yang hampir sama kayak gue, tapi nggak semuanya sama. Salah satunya adalah tentang perhatian dan pengertian. Pasangan gue yang ini orangnya boleh dibilang sangat perhatian, untuk masalah perempuan yang selalu mau diperhatiin, gue nggak perlu khawatir karena dia udah ada di level yang lebih dari cukup untuk bisa memperhatikan pasangannya. Gue, yang kata pasangan gue, salah satu temen gue, dan secara general gue menilai diri gue sendiri, I’m lack of giving as much as affection which he does. Gue lebih menanggapi semuanya dengan simple dan mencoba mengerti gimana rasanya jadi orang lain. Gue juga orangnya sangat mentolerir banyak hal asalkan itu positif. Maksudnya gini, saat lo pacaran dan itu berhubungan jarak jauh, nggak ada lagi yang bisa lo andalkan selain smartphone dan koneksi internet, so as possible as you can, you will always keep in touch with him, right? Berhubung semua mahasiswa yang selalu memiliki tugas banyak, gue akan sangat ngerti saat pasangan gue lebih memilih semua hal yang berhubungan dengan dunia perkuliahannya dibandingkan gue, and I’m okay. I really am. Ya karena manusia sifatnya beda-beda, mungkin bisa dibilang bahwa he does not tolerate as much as I do to him. Kita berkebalikan. Sifat gue yang selalu mentolerir banyak hal lah yang jadi mengesankan gue terlalu cuek sama pasangan gue karena gue akan oke-oke aja kalo misalnya hampir seharian dia nggak menghubungi gue demi semua hal yang berhubungan dengan dunia perkuliahannya. In fact, I do not mean to be like that.


Setelah dikomunikasikan dengan panjang lebar dan secara dewasa tentang apa aja yang kita mau, intinya adalah; pasangan gue membutuhkan perhatian, dan gue membutuhkan pengertian. Well, maybe I cannot do the affection as much as you do to me, but I will do as hard as I can to you karena sebenernya untuk mencoba menjadi sessuatu hal yang kita belum terbiasa itu susah loh, tapi kalo berhasil berubah tuh sesuatu yang harus diapresiasi. Being well-known because of the behavior which sticks to you is good, but it cannot be better if you have as much as good behavior you can have. Perhatian dan pengertian itu bukan pilihan, tapi emang harus ada dua-duanya dalam satu hubungan.

Sunday, 22 September 2013

The Real Beauty of Woman

For a woman, beauty is like a status to measure where stage she stands on is. The matter is the fact that woman thinks beauty is measured on how pretty she is. Unfortunately, the beauty itself has some categories to be considered before you say you are beautiful.

The first category is having a natural face. It means that you do not need much makeup to be attractive. If you are really beautiful, everybody will say you are beautiful although you do not use any makeup. Based on the small research which was done by a woman to man (kompasiana.com), man actually does not really care about how many kind of makeup you have pour to your face. What they need is the comfort both of you make. On the other hand, there are some jobs which require the employees especially women to be attractive, especially woman with makeup. In that case, you cannot do anything because it is a regulation from your job, but you can still have a natural face. Having a natural face means that you put enough portion to your face. You can use either a soft colour to make your face does not look like a clown or a skin colour to make it look like your real skin.

Doing some exercise is the second category. Beauty is not always measured by your physical appearance. It also depends on your health. Someone who looks so energetic will bring a good aura and it will lead you to a good impression from others. Your health also leads you to a self confidence. If you believe to yourself, you will get good result from everything you have done because what you think and have faith is what you will get. You can start from an easy exercise like jogging, skipping, or everything you think you can do in a short time. Having a good sleep time is also another way to make you healthy and fresh. People prefer to be interested in a woman who is fresh and healthy but not too pretty than a woman who is beautiful but looks so tired.

Another aspect of the real beauty of woman is her intelligence. People will like a woman who has much knowledge. Someone’s knowledge determines how she sees something and how she solves her problem. Woman who has high intelligence can mingle with everybody from every class because she knows how to treat people from up and down classes. With her intelligence, woman also can enhance her status with man. She will not be underestimated by man because she has much knowledge. Woman’s intelligence can also be seen from her experience. Woman with many experiences will be assumed as an active woman. It is also a good impression from others that will give you label as the really beautiful one.

The fourth category is whether the woman is independent or not. Woman who is independent is absolutely a mature one. If you are independent, you will be assumed that you are brave enough to take the blame for what you are going to face. You will also be believed to handle everything by your own. Being independent also can be seen whether or not she can do the house works. Besides your knowledge, a man will see you are beautiful or not from what kind of thing you can do in your house. It is a destiny that woman should take care of the household. Although the globalization has changed everything, but a skill to cook is a must-skill that should be had by every woman. Research found that men love woman who can cook is 33% percents. (merdeka.com)

The last but not least, woman is beautiful when she can take care of her surroundings. Taking care of your surroundings means that you want to share everything you have to others. If you think you have knowledge that others do not, you may share with them. If you think you have some clothes that you seldom wear it, you may also share with them. Taking care of surroundings does not always mean it is your relation to others but also to the environment. Keeping the environment clean from your trash is also a form of taking care of surroundings. The important thing in the society is you will be looked based on your habit and your behaviour. How useful you are for your society and what things you can do for your society are the aspects that your beauty is admitted by others.


To sum up, there are many factors that should be considered as the real beauty of woman, such as: having a natural face, doing some exercise, having high intelligence, being independent, and taking care of her surroundings. 

Sunday, 8 September 2013

It is Fate!

No one knows what his/her life would be later on. Pernah nggak sih lo kepikiran kalo orang baik yang lagi sama lo sekarang bisa jadi orang yang nggak begitu baik lagi nantinya? Atau orang yang di samping lo sekarang adalah orang yang nggak lo suka tapi mungkin nanti di masa depan dia jadi orang yang sangat lo butuhin. Have you ever wondered? It is such a mystery!

Kejadian inilah yang proses menuju pos satunya Alhamdulillah udah gue lewatin, tinggal terusin jalan biar sampe ke pos-pos yang lain aja. Dimulai dari seseorang yang sekarang jadi orang yang berarti banget buat gue ngirimin foto setahunan yang lalu. Kesimpulan yang bisa ditarik dari foto itu adalah; lo nggak akan tau seseorang yang ada di sebelah lo saat itu akan tetap jadi orang yang sama beberapa tahun lagi atau nggak. No one knows.

Gue dan orang yang berarti buat gue ini nggak pernah nyangka kalo kita bisa sampe ke tahapan ini. Kita udah saling kenal sekitar tiga tahunan. Selama dua setengah tahunan itu kita cuma temen baik yang saling dukung satu sama lain. I know his past, so does him. Murni, hanya teman. Kita saling kenal dekat sama masa lalu masing-masing. Tapi semuanya berubah semenjak…Tuhan memutarbalikkan dunia kita. Kita ngelewatin bulan-bulan yang sangat berat; dia sama masa lalunya dan gue sama masa lalu gue. Sampe akhirnya masing-masing kisah hidup kita sama orang yang dulu kita pilih, punya ending yang berbeda walaupun tetap segaris lurus.

Sebagai teman yang baik, being there for your best friend is a must. Kita sama-sama saling being there kalo salah satu dari kita membutuhkan bantuan. Intensitas pertemuan dan komunikasilah yang lambat laun tanpa disadari udah masuk ke dalam jalur which is not supposed to be best friend. Semakin nggak kuat buat nyiksa perasaan sendiri, akhirnya kita memantapkan hati dan pilihan to move our track.

Saat semua orang tau track yang lagi kita ambil sekarang, well, mungkin banyak yang pro, kontra, atau mungkin nggak nyangka. Semua orang di sekeliling kita jadi saksi hidup terhadap proses-proses apa aja yang udah kita lewatin. Jelas aja nggak nyangka. Tapi seharusnya nggak usah heran juga dong because this is Allah’s way.


Tadi malam sahabat gue bilang, “Kalo ada yang ngomong apa-apa nggak usah didengerin, Wis. Anggap aja angin lalu. Ini kan bukan kemauan lo.” Memang benar, ini bukan kemauan gue, this is what is called as fate. Lo mungkin nggak akan sadar kalo fate itu sudah diarahkan menuju lo dengan orang yang udah ditakdirkan untuk lo yang mungkin lo nggak akan nyangka. For those who do not know the processes about how this story ends, please do not even try to tell your assumptions to me because I will obviously choose to be the deaf :))

Saturday, 31 August 2013

A Sudden Romantic Poem

I never made a poem in English before. Since my lecture asked me to make it, so this one is mine. Iqbal Januari Pratama was my inspiration.

The sky every morning I look into becomes extremely dim for your presence has been coloring my whole world.
Neither a painter nor a carver can make a piece of art just like you make to my heart.
Every time you whisper a word means a world to me and I cannot resist this eager for always be with you.
When I miss your little whine, I come to the roof top hearing to the bird's tweet so this random feeling can be cured for a while.
People may say your little whine is an annoying little kid action but it means a lovely appeal to me.
I will either fight my weaknesses or restrain my will as long as I can gaze your beautiful eyes.
I love the part when you can be an ignorant man yet your love is deeper than my love.

Friday, 16 August 2013

"Kemerdekaan" di Kalimantan Barat

Dirgahayu RI! Well, yang diharapkan saat seseorang telah berada di tahun yang baru adalah untuk terus maju menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula yang sudah pasti diharapkan oleh rakyat Indonesia. Pertanyaanya, siapa yang harus mulai dibenahi terlebih dahulu; masyarakatnya atau pemimpinnya?

Setelah tadi sempat memindah-mindah channel di televisi, saya menemukan kenyataan yang ironi yang terjadi pada Negara kita sendiri. Ini terjadi di daerah perbatasan Malaysia dengan Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Pendidikan di Kalimantan Barat sangatlah memprihatinkan. Sekolah banyak yang letaknya jauh hingga membutuhkan waktu yang lama bagi anak-anak untuk menuju kesana. Bangunan sekolah juga tidak selayaknya sekolah yang berada di daerah Jakarta atau kota, para guru juga sering sekali terlambat atau bahkan tidak masuk. Akhirnya anak-anak pun terlantar di sekolahnya.

Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan sekolah di Malaysia. Bangunan yang sangat luas, gedung bertingkat nan bagus, dan beberapa ruangan menggunakan pendingin ruangan. Anak-anak bahkan diberikan oleh Malaysia pendidikan yang bebas biaya, diberi jatah makan siang, hingga diberi uang saku setiap harinya. Yang lebih mencengangkannya lagi, pemerintah Malaysia memberikan beasiswa sampai ke perguruan tinggi untuk anak-anak bangsa yang berprestasi.

Jika dibandingkan, tentu saja jauh sekali perbedaannya antara apa yang pemerintah kita lakukan dan pemerintah Malaysia lakukan. Siapa yang tidak ingin bersekolah di tempat yang serba gratis dan layak seperti itu. Saya juga pernah melihat acara televisi beberapa tahun yang lalu tentang orang-orang di perbatasan. Mereka menggunakan mata uang ringgit karena mereka lebih dekat untuk bertransaksi ke wilayah Malaysia dibadingkan dengan Indonesia. Mereka juga menonton acara televisi Malaysia hingga ada yang tidak tahu siapa presiden Indonesia karena mereka benar-benar tidak dijamah oleh Negara kita sendiri. Sejujurnya terasa teriris hati saya ketika melihat acara itu. Memang daerah perbatasan sulit sekali untuk dijangkau, tetapi jika terus menerus tidak ada pergerakan yang cepat dari pemerintah, maka lambat laun akan ada perpecahan di Indonesia.

Menjawab pertanyaan yang tadi saya tulis, dalam kasus ini yang sangat harus dibenahi terlebih dahulu adalah pemimpinnya. Mereka semua harus mampu menarik kembali masyarakat Indonesia dengan segala perbaikan yang minimal setara dengan apa yang Malaysia lakukan. Kemana para anggota DPR yang jumlahnya ratusan itu? Kemana para anggota DPD yang juga jumlahnya ratusan itu? Mulailah pemerintah membenahi diri dengan terus berupaya untuk selalu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Seluruh, tanpa beda!

Melihat persoalan-persoalan di Indonesia yang setiap hari makin menjalar, masyarakat dan pemimpin harus sama-sama sering mengintrospeksi diri. Masyarakat harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kemajuan bangsanya, harus selalu peduli terhadap apapun persoalan di Negara kita, dan juga harus selalu ikut andil dalam memajukan bangsanya. Pemerintah juga harus selalu menjadi medium yang mengayomi masyarakatnya, harus selalu memberikan semua yang masyarkat butuhkan untuk kemajuan bangsanya, dan yang terpenting harus selalu menjaga iman agar tidak terjerumus ke lubang-lubang kotor.

Saturday, 3 August 2013

Comedy Romance Movies

Dibilang movie freak sih engga karena gue tau ada orang yang jauh lebih freak dari gue, tapi dibilang biasa-biasa aja juga kayaknya terlalu sayang karena gue nganggapnya udah lebih dari biasa (menurut gue). Yaa agak lumayan banyak lah ya film yang selama ini menemani hari-hari gue di Jatinangor. Gue termasuk orang yang nggak suka nonton apa yang nggak mesti gue tau; horror maksudnya. In other words, you may say that I am a coward. Gue sangat suka film yang bergenre comedy dan comedy romance. Kalo lo penyuka genre yang gue sebutin tadi, so you should watch these!

1. The Devil Wears Prada (2006)
The Devil Wears Prada (2006) Poster
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blun, etc.

2. The Proposal (2009)
The Proposal (2009) Poster
Casts: Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Mary Steenburgen, etc.

3. Freaky Friday (2003)
Freaky Friday (2003) Poster
Casts: Jamie Lee Curtis, Lindsey Lohan, Mark Harmon, etc.

4. Bride Wars (2009)
Bride Wars (2009) Poster
Casts: Kate Hudson, Anne Hathaway, Bryan Greenberg, etc.

5. Ella Enchanted (2004)
Ella Enchanted (2004) Poster
Casts: Anna Hathaway, Hugh Dancy, Cary Elwes, etc.

6. Penelope (2006)
Penelope (2006) Poster
Casts: Richard E. Grant, Christina Ricci, James McAvoy, etc.

7. Just Like Heaven (2005)
Just Like Heaven (2005) Poster
Casts: Reese Witherspoon, Mark Ruffalo, Donal Logue, etc.

8. When in Rome (2010)
When in Rome (2010) Poster
Casts: Kristen Bell, Josh Duhamel, Anjelica Huston, etc.

9. Just My Luck (2006)
Just My Luck (2006) Poster
Casts: Lindsey Lohan, Chris Pine, Samair Armstrong, etc.

10. Serendipity (2001)
Serendipity (2001) Poster
Casts: John Cusack, Kate Beckinsale, Jeremy Piven, etc.

11. You Again (2010)
You Again (2010) Poster
Casts: Kristen Bell, Jamie Lee Curtis, Sigourney Weaver, etc.

12. Monte Carlo (2011)
Monte Carlo (2011) Poster
Casts: Selena Gomez, Katie Cassidy, Leighton Meester, etc.

13. Crazy, Stupid, Love (2011)
Crazy, Stupid, Love. (2011) Poster
Casts: Steve Carell, Ryan Gosling, Julianne Moore, etc.

14. Due Date (2010)
Due Date (2010) Poster
Casts: Robert Downey Jr., Zach Galifianakis, Michelle Monaghan, etc.

15. Ted (2012)
Ted (2012) Poster
Casts: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Seth MacFarlene, etc.

16. Bewitched (2005)
Bewitched (2005) Poster
Casts: Nicole Kidman, Will Ferrell, Shirley MacLaine, etc.

17. 13 Going on 30 (2004)
13 Going on 30 (2004) Poster
Casts: Jennifer Garner, Mark Ruffalo, Judy Greer, etc.

18. It's a Boy Girl Thing (2006)
It's a Boy Girl Thing (2006) Poster
Casts: Samaire Armstrong, Kevin Zegers, Sherry Miller, etc.

19. No Strings Attached (2011)
No Strings Attached (2011) Poster
Casts: Natalie Portman, Ashton Kutcher, Kevin Kline, etc.

20. Addicted to Love (1997)
Addicted to Love (1997) Poster
Casts: Meg Ryan, Matthew Broderick, Kelly Preston, etc.

21. When Harry Meet Sally (1989)
When Harry Met Sally... (1989) Poster
Casts: Billy Crystal, Meg Ryan, Carry Frisher, etc.

22. Parental Guidance (2012)
Parental Guidance (2012) Poster
Casts: Billy Crystal, Bette Midler, Marisa Tomei, etc.

23. Diary of a Wimpy Kid (2010)
Diary of a Wimpy Kid (2010) Poster
Casts: Zachary Gordon, Robert Capron, Rachael Harris, etc.

24. Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (2011)
Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (2011) Poster
Casts: Zachary Gordon, Devon Bostick, Rachael Harris, etc.

25. Diary of a Wimpy Kid: Dog Days
Diary of a Wimpy Kid: Dog Days (2012) Poster
Casts: Zachary Gordon, Steve Zahn, Robert Capron, etc.

P.s.: Rata-rata ini film komedi romantis dewasa di atas 18 tahun. Enjoy watching :)
sumber: imdb.com