Sunday, 4 May 2014

Sorry and Thank You

I don’t know what’s going on—no, I don’t don’t know—I mean, I literally know that something is wrong with our ship but I don’t know what really wrong is. Maybe it is just I who am too insensitive to him because things have been so rough recently and I guess my eyes are isolated somewhere. I cannot blame him, and in fact, I think he is okay, because he is the most loveable guy I ever met. As a driver, I should have driven very well. Just because some reefs crack our ship, doesn't mean I have to give up on driving because every ship must have a purpose of where to land.

If you read this, I just want you to know that I really feel guilty about what has happened. I need to be slapped hard in the face to believe that something big and real are happening right now. Okay, I feel so childish right at the moment I tap you these words. You've been really nice and sweet to me, but I know it is I who am not quite thankful.

The video you made for me was really touching. Thank you for being so romantic J

Thursday, 27 March 2014

Mahasiswa dan Politik

Bukanlah dunia yang kutahu banyak tentangnya, mendengarnya saja membuatku sedikit tersentak. Aku, mahasiswi yang sangat awam terhadap politik, tidak terlalu memerhatikan “politik” yang ada di lingkar kepalaku. Entahlah, mungkin juga tidak peduli. Semenjak aku bertemu banyak orang di hidupku, kata itu terasa makin dekat denganku. Semua orang berpolitik, ternyata, mengindikasikan bahwa tidak semua orang sepenuhnya baik. Jangan tidak siap untuk mengakuinya, kamu pun begitu.

Salahkah jika kita melakukannya? Menurutku, itu sudah menjadi sifat alamiah semua orang. Kekuasaan. Tentu tidak ada orang yang tidak ingin dilihat. Janganlah munafik, mahasiswa sejujurnya sangat pintar kan dalam ber”politik”? Tidak salah kok, yang terpenting adalah bagaimana menyiasati kata-kata “politik” itu sendiri agar tidak terdengar kasar di telinga.

Mataku terbuka lebar menyadari bahwa jalan ini terlalu luas jika dilewati oleh 1-2 mobil saja. Dalam kata lain, kemana aja lo, Wis? Satu hal yang pastinya tidak akan kusesali; bertemu banyak orang dengan berbagai macam pengalaman dan karakter pasti akan membuat kita jauh berkembang. Meskipun agak terlambat, tapi daripada aku tidak bertemu dengan orang-orang macam ini sama sekali.

Pendekatan yang dia lakukan untuk menyiasati makna “politik” layaknya sutra yang berhasil dibuat oleh laba-laba; lengket, elastis, dan sangat kuat. Mengetahui siapa saja yang menjadi oposisi kita merupakan langkah awal yang harus ada saat kita mulai ber”politik”. Selanjutnya kita hanya harus membiasakan diri dengan berbagai macam taktik untuk bisa ber”politik” dengan baik.

Satu kalimat yang memiliki banyak interpretasi yang aku dapat malam ini, “pemimpin itu tidak disetir”.

Saturday, 15 February 2014

Iqbal Januari Pratama (2)

To accomplish the full mission of on holiday with Iqbal, I write another post about him based on girlfriend's view.

It's been such a very long time since we haven't met as a partner. Akhirnya penantiannya terbalaskan juga. Sekitar hampir lima bulan baru bisa ketemu dan berbagi ceria dan cerita. Liburan semester 3 menuju semester 4 ini jadi cerita banget, sedihnya cuma bisa mengelus dada sama apa yang terjadi di dunia perkuliahan—dosen dan nilai—, tapi akhirnya ada pelangi; Iqbal pulang, yeay! Nasib tinggal di ujung Indonesia, biaya pesawatnya sangat tidak murah. Alhasil, dia harus berjuang makan sehari yang lima ribuan biar bisa nabung *starry eyes*. Iqbal sampai Jakarta tanggal 15 Januari 2014, sehari setelah ulang tahunnya. Bermodalkan roti berbentuk kura-kura yang dibeli dari toko kue kecil dekat rumah juga kayaknya Iqbal udah seneng hehe.

Actually, we’ve made places-to-go and things-to-do list for our holiday but due to the short time we had only some places we could go to and some things we could do. Hal yang belum terlaksana adalah ngajarin Iqbal Bahasa Inggris dengan silabus yang paling beda dan nonton Iron Man bareng seharian dari 1-3. Sedihhhhh. When ldr people have their holiday together, it doesn’t guarantee they will not argue and have some “berantem-berantem unyu”. We did that. Yang harus aku akui adalah, dia orang tersabar yang pernah aku temui. With his simple and mature mind, he could carry me out from my selfishness. Baru kali ini dalam satu hari, yang bener-bener bete banget awalnya, sekitar satu-dua jam kemudian udah lupa sama apa yang bikin bete dan udah ketawa-ketawa lepas bareng lagi.

Kenal sama Iqbal sih udah lama, cukup lama, tapi beda rasanya kenal sama Iqbal sebagai teman sama sebagai pacar. Sewaktu jadi pacarnya, semua hal yang dulu didapet sebagai teman juga masih didapet sekarang. Dari dulu SMA sampai sekarang jadi pacarnya, dia masih tetap jadi cowok iseng yang pernah aku kenal. Masih suka miting-miting gitu kalo lagi geregetan, masih suka masukin jari orang ke lubang hidungnya, dan masih suka kentut sambil bergaya. But that’s what I love about him. Nggak banyak bedanya kok pokonya, kita seneng banget bertukar pikiran ngobrolin banyak hal kayak dulu di SMA. Sebagai teman yang tahu cerita masa lalunya, menurutku dia sudah berhasil melewati fase ketidakstabilan karena sekarang dia sudah jauh lebih dewasa dari Iqbal yang SMA. Apa ya…dia tuh kalau sudah tulus melindungi seseorang pasti dia akan melakukan semua semampunya dia, bener-bener dengan perjuangannya pokoknya. Dia juga orang yang sangat bisa membahagaiakan pasangan dengan semaksimal mungkin karena itu prinsipnya. Ada beberapa hal yang selama ini masih jadi pertanyaan-pertanyaan di otakku yang didorong sama Iqbal juga, apakah selama ini masih kurang juga ya usaha kamu, Wis? He felt that I’m not really total to my effort. Bingung sih asli. Terus mikirin apa yang salah dan siapa yang salah. Lama-lama bisa belajar juga tentang apa yang dimaksud sama dia. Semua orang emang punya cara yang beda-beda buat membahagiakan pasangannya, tapi kan kalo ngelakuinnya maksimal pasti beda rasanya. Maaf ya Iqbal. Ngerti kok sebenernya apa yang ada di pikirannya, karena sebenernya yang namanya pasangan tuh saling merefleksi. What you did ya what you got. Pokoknya begitu. Dia juga penuh kreasi gitu dalam mewarnai hubungannya. Dia adalah orang yang nggak pernah berhenti belajar, terbukti karena dia sering banget baca artikel-artikel dan video-video yang sekiranya bisa ngebantu dia dalam ngejalanin hubungannya. Sisi lain yang paling aku suka tentangnya adalah, cara dia ngemong anak kecil hehe. Dia sih cuma bilang biasa aja sama anak kecil sedangkan aku sangat suka anak kecil, tapi waktu aku main ke rumahnya dan bertemu ponakan cantiknya, cara dia menyayangi anak kecil tuh sweet HAHA. Bukan yang dielus-elus terus diciumin gitu, nggak, tapi diajak bercanda terus digendong-gendong, dilempar-lempar sampai ponakannya tertawa kegirangan. It looks sweet for me.

Hal yang bikin nggak srek adalah dia terlalu mengarahkan sesuatu. Maksudnya gini, mungkin tujuannya itu baik biar semuanya berjalan baik mengingat apa yang sudah masing-masing lakukan, tapi menurutku kalau misalnya terlalu ngarahin, minta gitu juga jadi pusing sendiri. Tapi nggak banyak kok karena aku tau maksudnya. Iqbal juga kalau udah main game online tuh lupa sama seluruh dunia dan isinya. Kayak yang he lives for game, ya nggak papa sih sebenernya ditinggal main game selama masih ada film yang bisa ditonton, tapi ya kalo bisa nggak lama-lama juga dari jam 4an sampai jam 10 malam begini. Oh iya, kemarin juga sebenernya aku sih biasa-biasa aja sama rambutnya yang gondrong karena aku tahu perasaan laki-laki selalu berambut pendek terus dan sekali dia nyaman dengan rambut panjangnya, dia nggak akan potong, tapi kalau disuruh milih sih sukanya sama rambut Iqbal yang pendek aja. Balik lagi sih, kalau dia suka ya mau diapain dan aku sih nggak papa-papa aja.

Gitu deh pokonya Iqbal, yang jelas I’m really into him.
Ini foto yang paling favorite hoho

Oh iya Iqbal udah potong rambut loh sekitar tanggal 10 atau 11. Yeay!

Tuesday, 7 January 2014

Tidung Island

Hello 2014!
I'm pretty sure everybody has their own wishes for every year. Let's make best effort and let God do the rest! Aamiin.

Weekend pertama di tahun 2014, saya dan keluarga berkesempatan untuk mensyukuri nikmat Tuhan dengan pergi ke Pulai Tidung. For God's sake, that was the first time I rode a speedboat in an hour and it successfully made my heart beat uncontrollably. On one hand, Pengalaman naik speedboat menjadi nggak asik karena saat itu speedboatnya berlawanan arah dengan ombak. Mual. Pasti banget itu. Nggak tenang juga iya. Gimana mau tenang kalau adek yang duduk di sebelah terus berkicau, "huaaa takut!"


On the other hand, you would never stop saying something to show your gratefulness. I bet. Ombak yang menggulung-gulung tinggi yang mampu membuat jantung jadi tidak karuan berubah saat birunya air laut memberikanmu ucapan selamat datang yang hangat. Waktu itu, saya bersama rombongan dari kantor Ibu saya berangkat menuju Ancol setelah habis shalat subuh. Kami semua benar-benar berangkat dari pintu masuk tol Cijago menuju Ancol sekitar pukul 06.30 WIB. Kami tiba di Marina, Ancol pukul 07.30 dan mobil kami diparkir di tempat yang sudah disediakan, biayanya Rp 20.000 semalam. Perjalanan dari Marina ke Tidung menghabiskan waktu satu jam, tetapi jika dari Muara Angke, yang saya tahu, sekitar dua jam.
Dermaga Marina Ancol



 Iseng naik sepeda sambi cari spot yang bagus untuk difoto, ini potret Pulau Tidung dari sisi lain

Potret dari sisi yang lain lagi

Ada tambahan cerita seru. Setelah mengayuh sepeda berdua dengan adik di siang hari selama 10-15 menit karena dibuat penasaran oleh jembatan cintanya Pulau Tidung, sampai juga kami di jembatan cinta. Tersadar bahwa ada tulisan, "parkir sepeda Rp 2.000", adik memanggil saya memastikan jika saya benar-benar tidak membawa uang. Dengan jantung yang tidak karuan, kami balik lagi dengan saya yang memberanikan diri berkata, "bang, mau balik lagi ya bang." Untungnya abang-abang penjaga itu memberikan izin kami keluar tanpa bayar. Makasih bang hehe. Fyi, untuk yang jalan kaki tidak kena biaya kok. Oh ya, transportasi disana hanya ada sepeda dan becak motor. Becak motor bisa dinaiki lebih dari dua orang jika mau, karena penumpang juga bisa duduk di belakang supir. Ini juga pengalaman terbaru saya terhadap transportasinya, karena mengingat perjalanan yang telah dilalui cukup menegangkan dan berharap agar perjalanan lautnya segera berakhir, berbeda rasanya saat liburan tetapi masih dikelilingi oleh kendaraan berplat B karena Pulau Tidung masuk ke dalam Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta.


Sore harinya sekitar pukul 14.00 WIB, saya bersama rombongan naik perahu yang berukuran sedang untuk bisa menyelam di tengah lautan. Kami dibawa berkeliling di tengah gulungan ombak dengan jantung yang tentunya semakin tidak menentu karena semakin kecil kapalnya dengan ombak yang semakin besar membuat kami takut, apalagi kemiringan kapal sangat terasa jika ombak sudah menggulung.

Gambaran perahu yang saya naiki, tetapi ini perahu rombongan lain

 Saat di tengah laut



Beningnya air di Tidung


Jembatan cinta

Pria yang Merobek Pikiran

messed up | Tumblr

Mataku berkaca-kaca saat ku tahu ada yang datang. Bukannya tidak senang, tetapi mengetahui siapa yang datang yang membuat jantungku berhenti seketika. Seorang pria dewasa, membuka pintu tepat beberapa detik setelah aku duduk di kursi yang dipersilakan, ia melihatku sekejap lalu kembali mengurusi pekerjaannya. Beberapa detik yang cukup merobek pikiranku. Aku hanya termenung memikirkan apa yang terjadi denganku karena tak ada yang mampu menolongku. Sedih. Kacau. Kata-kata yang membingkaiku saat itu.

Image source: http://weheartit.com/entry/75505969/via/arantxacf

Friday, 29 November 2013

Oh Cabai


Good evening, everyone!

Mungkin beberapa orang yang kenal sama gue udah tahu kalau gue nggak suka sama cabai. Bukan cuma cabai aja sih, apapun yang mempunyai rasa pedas nggak cocok sama lidah gue. Mungkin beberapa dari kalian juga penasaran kenapa gue nggak suka sama cabai dan apapun yang pedas-pedas, termasuk sindirian pedas. Gue disini pakai kata mungkin untuk menghibur diri sendiri. Ya kan beranggapan aja kalo bakal ada yang penasaran. Bantu senengin gue ya.

Saat gue keceplosan makan pedas, gue nggak alergi kok, tapi lidah gue rasanya menolak mentah-mentah buat si rasa itu masuk. Ada beberapa alasan yang membuat gue nggak suka banget sama cabai dan apapun yang pedas.

Pertama, pedas tuh ya…pedas. Gue nggak ngerti saat teman-teman gue nanya ke gue, “Wis, kenapa gak suka pedes?” Gue cuma jawab, “Ya karena pedes.” Gue terus memutar-mutar apa yang ada di otak gue, pedas kan pedas, kenapa juga masih tanya gak suka. Pedas tuh ya nggak enak, menurut gue. Entah kenapa, mungkin saking jarang bangetnya makan pedas, jadi indra pengecap gue bagian perasa pedasnya tuh masih berfungsi dengan sangat baik. Saat teman gue suka sama pedas, menurut logika gue, berarti tempat untuk merasakan rasa pedasnya udah semakin kebal sama rasa pedas, jadi nggak heran ada yang tingkat kesukaan sama makanan pedasnya tuh meningkat. Begitu pula yang terjadi dengan gue. Berhubung gue nggak suka pedas, jadi tempat merasakan pedas di lidah gue masih berjalan baik dan kalau kesentuh makanan pedas sedikit langsung terasa.

Kedua, pedas tuh bikin gue ngeces.  Bahasa Sundanya tuh ngacay, ya pokoknya hasil terjadinya air liur berlebih yang tidak bisa tertampug oleh mulut. Kebayang nggak tuh kalau gue lagi makan bareng-bareng tau-taunya makanannya pedas dan bikin gue ngacay. Masalahnya, karena yang nggak pernah suka sama pedas ini udah dari awal banget lahir ke bumi, ngacaynya tuh nggak sebentar. Kan jadi bete sendiri meskipun yang ngacaynya gue, kalo nanti air liur gue habis gimana? Ya maklum, bukan anak biologi jadi taunya air liur bisa habis.

Ketiga, pedes itu bikin gue harus banyak minum. Faktanya, gue termasuk orang yang cukup lumayan sering minum saat makan, karena  gue udah dibiasain untuk minum air putih yang banyak sama Bapak Prasetyo. Terbukti dari jaman SD sampe kuliah gue selalu bawa botol minum sendiri ke tempat gue sekolah. Kebayang nggak kalo gue udah sering minum pas makan, eh makanan yang dimakannya pedas. Kemungkinan gue minumnya akan jadi berkali-kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pengalaman yang paling gue ingat adalah, waktu itu di kelas 9 SMP, gue belajar bareng teman gue di rumahnya, karena udah jam makan siang, ibunya masak mie goreng untuk kita, tapi sayangnya teman gue ini lupa bilang sama ibunya kalau gue nggak suka pedas jadi weh sambal di mienya dicampur sama ibunya. Gue yang saat itu sudah bisa mencium aroma sambal di mie gue cuma bisa berdoa dan makan mie itu dengan penuh rasa menghargai ibunya teman gue. Seinget gue mienya nggak habis karena gue sudah super kekembungan akibat minum 1,5 liter air putih. Gue nggak kuat jalan dan ngapa-ngapain saat itu. Dada gue udah sesak banget karena napas gak bisa kekontrol akibat kekenyangan.

Please, don’t “lebay lo!” me. Gue tau emang mungkin terdengar amat berlebihan bagi orang lain, tapi terimalah gue apa adanya. Halah Wis. Sampai sekarang, sudah banyak teman dan semua orang yang dekat sama gue memotivasi untuk bisa menyembuhkan gue dari ketidaksukaan terhadap pedas ini. Sampai sekarang sih gue masih nggak bisa makan cabai dan yang pedas-pedas. Meskipun gue udah sekitar 51.411.663 kali ditipu sama penjual makanan nasi goreng, mie goreng, dan sebagainya, tapi gue masih nggak makan pedas kok, karena Bapak Prasetyo selalu melindungi gue dari serangan cabai dan aneka pedas-pedasan, yippiiii!!!

Well, gue merasa ini anugerah, karena gue berbeda dengan yang lain haha. Sampai sekarang teman-teman dan pacar gue masih bersama gue kok meskipun gue berbeda.

Sumber gambar: http://viknovi.blogspot.com/2013/01/cabai-merah.html

Friday, 25 October 2013

Happy Birthday to Me!

Selamat ulang tahun ya Wisny…semoga bisa sehat selalu, dikelilingin sama orang-orang yang baik, dimudahkan urusannya, dan tercapai semua cita-citanya aamiin! Loh, nggak apa-apa kan doain untuk diri sendiri? Hehe. Semoga yang membaca juga berbalik ya doanya :D

Well, I’m 19 now!

What do I feel? Nothing’s different but I think this is the time to show to everybody that it’s me, I exist.

How is that? Doing many things very well and being the extraordinary one.

Being nineteen is like I have more responsibility to take and to live it by myself. Nobody can help but me. Bahkan kayaknya tuh udah bukan saatnya lagi lo berada di balik punggung orang tua minta bantuan mereka, tapi lo yang harus siap pasang dada untuk ngelindungin orang tua lo. Ngelindunginnya pake kesuksesan yang udah lo capai selama ini sehingga mereka punya anak yang bisa dipasang dadanya di depan mereka saat orang lain nanya, “anaknya gimana pak/bu?” Orang tua lo tinggal pasang dada lo di depan mereka dengan bilang, “Alhamdulillah pak/bu, begini sekarang.” Whooaaa, what a life!

Di ulang tahun yang ke-19 ini gue sangat bersyukur buanget punya temen-temen yang selalu ada buat gue, dan alhamdulillahnya pacar yang beberapa bulan ini mewarnai hidup gue. Cerita kejutannya sederhana dan bermakna, dan gue tetep terkejut karena ketidakpekaan gue terhadap sesuatu hal. Jadi hari Jumat itu, @annisahaps @arinaprm dan @NettiRahmawati nonton three on three di kampus. Gue sih emang nggak terlalu tertarik sama basket, ditambah lagi hari itu gue punya gosokan yang udah teriak-teriak minta perhatian gue, jadi nggak masalah buat gue untuk nggak ikut mereka. Sekitar jam setengah dua siang saat matahari lagi puanas banget kalo di Jatinangor, tiga kucrut itu dateng ke kosan gue dengan bawa kue. Gue seneng banget akhirnya bisa ngerayain berempat lagi, lengkap! Ceritanya beda sama pacar gue yang semenjak dari kemaren udah mulai cuek sama gue. Emang dasarnya gue nggak peka, gue cuma sakit hati sedikit karena dia cuek sama gue. Sakit hati gue bertambah banyak setelah dia cuma ngeread whatsapp gue dan ngucapin happy birthday jam 3-an. Saat itu gue cuekin balik, dalam hati gue cuma bilang, “terserah lo deh.” Sekitar jam 9 malam, ada yang ngetok pintu kamar gue dengan suara ketukan yang kenceng dan buru-buru banget, suara ketukannya kayak ngetuk pake kentongan, sumpah. Disitu gue takut banget, gue takut kalo itu orang jahat atau apapun. Terus gue langsung minta pacar gue untuk nelfon gue dengan segera. Dia bilang kalo itu bukan siapa-siapa dan minta gue buat nengok keluar. Ya gue takut lah, banget! Sampe Iqbal memohon buat buka pintunya, baru gue buka setelah 10 menitan. Jeng jeng! Gue dapet dua bingkisan. Dua-duanya dari Iqbal. Bingkisan pertama tuh hasil gambarnya dia gitu, gambar huruf “W” dihias sama pesan-pesan dan harapan dia buat gue, ditambah surat yang mencurahkan isi hatinya buat gue. Bingkisan satu lagi adalah sweater merah yang lucu banget, ngingetin gue sama Iron Man, ughhh! Waktu gue lagi ngeliat keseluruhan sweaternya, label harganya belum dicopot. Duh iqbal lupa bilang sama abang-abangnya, jadi ketauan deh kan :p

Well, my nineteen is full with gratefulness. Nggak ada habis-habisnya gue bersyukur dikelilingin sama orang-orang yang baik banget di hidup gue. No more precious birthday than your life is fulfilled by worthy people. Happy 19 on October 19th!